Mungkin aku terlihat konyol di hadapanmu. Atau mungkin aku terlihat begitu bodoh dihadapanmu. Aku pura-pura buta saat aku melihat kau menatap dia begitu dalam. Aku pura-pura tuli saat mendengar kau menyinggung tentang dia. Aku selalu berpura-pura saat aku sedang bersamamu.
Aku memang mampu berpura-pura saat kau bertanya tentang dia kepadaku. Aku selalu menebalkan telinga dan hati saat kau menanyakan keberadaannya saat kau tidak melihat dia bersamaku. Tapi apa harus aku berpura-pura untuk tidak sakit dihadapanmu saat kau begitu sibuk dengan dirinya dan mengabaikan aku, kekasihmu?
Andai saja kau berada di posisiku dan merasakan apa yang aku rasakan. Rasanya sakit ketika kau tahu yang aku tunggu bukan kamu, tapi dia. Rasanya perih saat kau begitu sibuk dengan dia dan melupakan aku. Rasanya pilu saat kau sibuk mencari-cari keberadaannya dan melupakan aku yang berdiri disampingmu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Tertawa dan tersenyum menyembunyikan luka yang tergores di hati. Mencoba menghapus pikiran negatif yang datang. Mencoba berpikir positif agar kita tidak bertengkar. Mencoba meyakinkan diri sendiri, bahwa akulah yang kau cintai dan banggakan, bukan dia.
Entah mana yang harus aku percaya; perkataanmu atau tindakanmu. Perkataanmu membuat aku merasa bagaikan seseorang yang begitu sempurna dan bahagia di dunia. Tapi tindakanmu membuat aku bagaikan orang ketiga yang masuk secara paksa dalam dunia kalian.
Apa mungkin kau mencintai dia? Apa mungkin kau memilih aku untuk menjadi kekasihmu hanya karena kau tak punya pilihan lain? Apa mungkin kau memutuskan menjadi kekasihku agar kau bisa lebih dekat lagi dengannya? Apa mungkin dia yang sebenarnya ada di hatimu? Atau apa mungkin kau salah sasaran saat kau mengungkapkan perasaanmu?
Kamu; yang mencintai dia tapi memilih aku.
