Sabtu, 27 Oktober 2012

Tolong katakan sesuatu.

Aku tak mengerti apa arti diammu. Aku tak mengerti bagaimana bisa sebuah pesan singkat darimu tak lagi bermunculan. Kata-kata dari mulutmu tak ada satupun yang tertuju untukku. Aku bingung. Bagaimana bisa kamu tidak menghubungiku dalam satu, bahkan dua hari? Tidakkah aku hadir dalam pikiranmu, sejenak saja? Sesibuk apakah kamu, sampai-sampai kamu lupa bahwa aku milikmu? Apa sekarang aku berubah menjadi membosankan? Apakah aku telah menyakitimu? Atau kamu bosan dengan hubungan kita?

Aku berusaha untuk berpikir positif. Mungkin kamu sedang sibuk, mungkin kamu lelah, mungkin kamu butuh ruang untuk dirimu sendiri, mungkin kamu sedang benar-benar tidak bisa menghubungiku.. Mungkin ini, mungkin itu, mungkin, dan mungkin...  Hal itulah yang membuatku membiarkanmu pergi menghirup udara segar tanpa bayang-bayangku yang mengikutimu dari belakang. Tapi, lepas dari hal itu, aku takut aku kurang peka. Aku takut aku salah mengartikan kebisuanmu saat ini. Mungkin saja sebenarnya kamu membutuhkanku tapi kamu tidak tahu bagaimana caranya memulai pembicaraan diantara kita, mungkin saja kamu lelah selalu mencariku dan ingin aku juga berusaha untuk mencarimu , mungkin saja kamu mengharapkan kehadiranku.. Mungkin ini, mungkin itu, mungkin, dan mungkin.. Sayangnya, kenyataan tidak sejalan dengan pikiranku. Disaat aku mencoba meraihmu dan berhasil menggenggam sedikit kehadiranmu, aku kehilangan genggaman itu, aku jatuh lagi ke dalam kesenderianku. Aku sendiri, kembali bersama dengan hening.

Kemana kamu selama ini? Apa yang terjadi pada hubungan kita? Aku butuh kejelasan! Apa arti kesetiaan bila hanya dalam kata? Apa arti cinta jika kita tak saling membutuhkan? Aku merasa bodoh karena aku selalu membutuhkan kehadiran orang yang belum tentu membutuhkan kehadiranku. Aku tersesat dalam semua kumpulan tanya yang selalu saja muncul, menghujam otakku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku hanya membutuhkan penjelasan darimu, seperti saat itu, disaat aku sempat terjerat dalam diammu juga. Aku pikir, itu terakhir kalinya aku tersesat. Ternyata aku salah, saat ini aku kembali tersesat, tetapi dalam situasi yang berbeda. Entah apa maksud dari diammu ini. Ku ulangi, aku tidak mengerti apa maksud dari diammu. Aku tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan, tetapi semua hal ini menghantuiku.

Sepertinya kamu harus membaca kembali apa saja yang telah kau katakan padaku.
Atau mungkin aku yang seharusnya kembali membaca apa yang telah kutulis untukmu selama ini.
Ingatlah semua janjimu, karena aku selalu mengingat janjku.
Maaf jika aku telah mengecewakanmu, menyakitimu, dan membiarkanmu.
Asal kamu tahu, aku mencintaimu.

785, doko ni iru no?
Read More

Senin, 22 Oktober 2012

Pantaskah aku merasakan rindu?


Ada rasa pilu yang menyiksa diriku ketika kau jauh dariku.
Aku tidak terbiasa menghabiskan malam tanpamu. Aku tak terbiasa mengawali hariku tanpamu. Aku tak terbiasa menjalani hariku tanpamu.
Ingin ku utarakan rasa rinduku padamu, tetapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana caranya.
Aku hanya bisa memendam rasa ini dalam-dalam,menyimpannya rapat di dalam hatiku.
Tetapi itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Selalu saja batinku meronta, ingin merasakan kehadiranmu.
Aku tidak bisa berhenti untuk terus-menerus memikirkanmu; sepanjang hari.
Aku berusaha membuat diriku sibuk agar tidak ada sedikitpun bayangmu masuk ke dalam rutinitasku dan membuatku merindu.
Terkadang aku benci merasakan rindu. Aku benci bagaimana rasa rindu itu selalu membuatku gelisah dan tak tenang. Aku benci bagaimana rasa itu selalu membuatku memikirkanmu. Rasa ini menyiksaku.
Aku kesal karena aku tidak bisa menyatakan rasa rindu ini padamu.

Tidak henti-hentinya aku membaca percakapan kita berkali-kali hanya untuk merasakan kembali kehangatan yang kudapatkan darimu. Aku selalu menikmati kata demi kata yang kau ucapkan.
Hal itu bisa membuatku sedikit tenang, membuatku merasa seolah-olah kamu ada. Tetapi terkadang, hal itu juga yang membuat air mataku jatuh. Aku kesepian.
Pasti kau bisa membayangkan sebagaimana besar sayang dan cintaku padamu setelah mengetahui apa yang ku rasakan di kala kau tak ada.

Semoga saja bukan hanya aku yang merasakan susahnya merindu. Ku harap kamu juga merasakan hal yang sama.
Tapi, mungkinkah? Aku kurang yakin karena aku belum pernah mendengar kata rindu itu terucap oleh bibir manismu.
Lucu. Bagaimana jika selama ini aku telah meerindukan orang yang tidak merindukanku?
Aku bingung, tapi aku tahu aku berhak merindukanmu karena aku milikmu, dan kamu milikku, seutuhnya.

Sepertinya kita harus menjaga jarak. Bukan untuk membuat kita semakin menjauh, tetapi menjaga jarak kita agar semakin dekat, sebelum akhirnya kita menjadi terlalu jauh.
Jangan sampai pada akhirnya, aku harus membiasakan diri untuk tidak menikmati kehadiranmu dalam hidupku. Jangan sampai..

Merindu itu tidak mudah. Apalagi dalam diam dan hanya sepihak.
Apalagi kalau waktu tidak ingin bekerja sama, dan situasi juga.
Apalah arti sakitnya merindu.. Aku akan tetap menikmatinya.


Read More

Sabtu, 20 Oktober 2012

Aku ingin merasa dihargai.


Banyak hal yang aku inginkan untuk kau ketahui. Palingkanlah hatimu sebentar, lihatlah hatiku, rasakanlah.. Kapan kamu akan berhenti melakukannya padaku? Hatiku telah tercerai-berai dan tak bisa lagi kembali menyatu karena semua perkataanmu. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Semuanya terjadi secara tidak sengaja. Aku tahu, apa yang sudah ku lakukan telah membuatmu sakit, tapi apakah kamu pernah memikirkan - sedikit saja - tentang perasaanku? Kamu bisa mencoba menghapus luka yang terlukis di hatiku, tapi tolong, hapuslah luka itu perlahan tanpa merusak kanvas dimana luka itu terlukis (baca:melukai).

Aku lelah untuk menjelaskan apa yang ku maksud karena ketika aku mencoba untuk menjelaskan semuanya, aku mendapatkan penolakan. Aku tidak pernah bermaksud untuk melindungi diriku. Aku hanya ingin berkata jujur, mengatakan apa yang seharusnya ku katakan agar kamu bisa mengerti apa yang aku rasakan. Apa aku salah melakukan itu? Walaupun kamu tahu semua sikap wanita pada umumnya, tapi tidak semua wanita sama. Mungkin pada dasarnya semua wanita sama, tetapi banyak hal yang berbeda yang kita pilih sehingga tidak semua hal yang kita lakukan sama. Aku tahu aku salah, tetapi wanita yang dulu pernah kau temui sangat berbeda denganku. Berhentilah membanding-bandingan aku dengan dia - masa lalumu. Ada beberapa wanita yang materialistis, egois, emosional, dan lemah tetapi aku tidak merasa demikian. Jangan seenaknya kamu menilaiku seperti ini. Dari situ aku bisa menyimpulkan bahwa kamu tidak begitu mengenalku. Mungkin hal itu dikarenakan aku yang selalu mendengarkanmu dan memilih untuk diam dan tidak peduli akan perasaanku, dan akhirnya kau merasa hebat.

Jangan buat aku merasakan kekecewaan. Berikan aku waktu untuk menjelaskan, dan tolong, dengarkanlah..
Aku selalu mengaku aku salah dan tidak pernah lupa untuk mengucapkan kata maaf, dan mencoba  untuk memperbaikinya. Apa itu belum cukup membuatmu berhenti menyakitiku?
Aku tidak sempurna, tetapi aku ingin kau tahu kalau aku sudah mencoba melakukan yang terbaik. Tolong, hargailah usahaku.
Perlakukan aku sebagaimana kamu ingin aku memperlakukanmu.
Kalau kau ingin didengar, berikan aku kesempatan untuk kau dengar.
Aku tidak egois, karena itulah hal yang telah aku lakukan sejauh ini, tetapi aku lelah karena kamu tidak pernah melakukan hal yang sama. Kau egois.

Apakah kamu tahu kalau semua kata-katamu selalu menyayat-nyayat perasaanku?
Aku selalu mengerti kamu, karena aku juga ingin dimengerti, tapi aku tidak mendapat balasan yang seharusnya.

Andai saja kamu bisa mengerti...
Read More

Jumat, 19 Oktober 2012

Semuanya Berubah Saat Aku Tak Mencintaimu Lagi

Dulu, disaat aku benar-benar mengagumimu, menyukaimu, mencintaimu, sangat sulit bagiku untuk dekat dengan dirimu. Sangat sulit bagiku untuk berbicara denganmu. Semua terasa sangat sulit untuk dilakukan dan mustahil akan terjadi mengingat kau adalah seseorang yang tidak terlalu dekat dengan diriku.

Dulu, aku hanya bisa melihat kau lewat di depan kelasku dan aku akan tersenyum malu saat teman-temanku tahu kalau aku sedang memperhatikanmu lewat di depan kelasku. Aku akan menyipitkan mataku untuk melihat dirimu dari kejauhan agar aku bisa melihat dirimu lebih jelas lagi. Aku akan terpaku saat kusadari ternyata kau membalas tatapanku.

Dulu, aku hanya akan menelan kekecewaan dan kecemburuan saat melihat kamu sedang mengobrol begitu akrab dengan teman-temanmu ataupun teman-temanku. Aku selalu berpikir, mengapa mereka begitu mudahnya membuka percakapan dengan dirimu tapi aku tak bisa? Ya, aku sadar, memulai sesuatu itu begitu sulit apalagi memulai percakapan dengan dirimu. Semua kata-kata yang ingin aku ucapkan padamu, hanya tertahan diujung lidah dan takkan mungkin aku keluarkan.

Aku tidak ingin terlalu mencintaimu karena aku tidak ingin terlalu sakit hati. Maka dari itu, ku lawan semua godaan untuk jatuh cinta kepadamu lebih dalam lagi karena aku tidak ingin menelan kekecewaan nantinya. 

Kini, disaat aku mulai melupakanmu, menyia-nyiakanmu, mengabaikanmu, sangat mudah bagiku untuk dekat dengan dirimu. Bahkan, hanya dengan 1 kalimat yang meluncur dari bibirku, kita bisa sedekat ini. Kita bisa menciptakan satu momen yang sulit untuk dilupakan; jika saja aku masih mencintaimu seperti dulu.

Kini, kita bisa saling mengobrol layaknya teman lama. Aku sudah bukan hanya memandangimu dari jauh saja, tapi kita bisa saling bercakap-cakap walau jujur, bukan itu yang aku harapkan. Aku sudah tak pernah peduli lagi jika kau lewat di depan kelasku. Aku takkan susah-susah menyipitkan mataku untuk melihat kau dari kejauhan.

Kini, aku hanya akan mengabaikan dirimu saat kau sedang bercakap-cakap dengan teman-temanmu atau teman-temanku. Aku tak pernah peduli dengan kehadiranmu kini, karena yang saat ini aku pedulikan, hanyalah temanmu...

Aku bingung. Kenapa disaat aku mengabaikanmu, kita bisa sedekat ini? Kita bisa menciptakan kenangan-kenangan baru? Kenapa dulu, disaat aku benar-benar menginginkan kau, kau malah jauh dariku. Sangat sulit bagiku untuk mendapatkan perhatianmu.

Apa yang harus aku lakukan? Sejujurnya, perasaan itu sudah lama menghilang dari hati ini. Perasaan itu sudah lama terkubur dihati ini. Karena saat ini, yang aku pikirkan adalah temanmu, bukan dirimu lagi.
Read More

Rabu, 17 Oktober 2012

Menyerah Bukanlah Hal yang Biasa

Sudah saatnya aku berfikir kedepan dan memulai hidupku kembali tanpa dirimu. Aku memang mencintaimu, aku memang menyayangimu, tetapi aku juga punya perasaan yang tidak mungkin aku paksakan untukmu. Aku mulai berharap dan berharap tetapi harapan itu telah tak ada lagi. Aku lelah menunggu, aku lelah bersandiwara, seakan-akan aku ini baik-baik saja. Aku lelah dengan keadaan saat ini. Aku merasa seperti semuanya menyiksaku dan aku hanya lelah dengan semuanya! Ya,semuanya! 

Aku akan mencoba untuk tak mencintaimu walaupun itu tak mungkin. Aku akan mencoba untuk tak menanyakan kabarmu seperti yang aku lakukan setiap harinya. Aku tahu itu akan sangat sulit, aku juga tahu itu tak mungkin terjadi, tetapi aku akan mencoba. Apa salahnya mencoba?

Ada 1 hal yang ingin ku tanyakan, mengapa kau memberiku harapan? Aku tak ingin berharap, tapi disaat aku tahu ada harapan darimu, aku mulai mencoba untuk berharap. Dan, kau tahu tidak, saat ini kau juga yang membuatku berhenti berharap! 

Mengapa aku berharap ketika kau masih sangat mencintainya? Dan kenapa kau memberiku harapan ketika kau masih mencintainya? 

Hey! Aku lelah denganmu dan semua tentangmu. Aku ingin melupakanmu untuk selamanya. Bantu aku membecimu. Aku sudah terlalu mencintaimu.

Seperti memegang erat setangkai mawar; 
aku (masih) ingin memilikimu walaupun aku terluka.
Read More

Selasa, 16 Oktober 2012

Maafkan Aku

Maaf... Maaf karena aku telah menggoreskan luka di hatimu. Aku telah mematahkan kepercayaan yang kau beri untukku. Setelah ku merusak kepercayaanmu, aku bisa melihat kekecewaan yang sangat jelas terlihat di wajahmu. Aku bisa melihat kekecewaan yang teramat dalam walaupun kau berusaha untuk menyembunyikannya dengan senyummu. Aku bisa merasakan bagaimana terlukanya kau saat ini. Setiap aku memandangmu dan kau membalas pandanganku, aku bisa melihat kobaran api kebencian dan dendam di matamu dan aku bisa melihat luka di matamu. Mata indah yang dulu sering ku tatap, sering ku rindukan, kini terlihat nanar. Mata indahmu hilang dan digantikan dengan mata yang penuh dengan kebencian. Sesakit itukah dirimu hingga kau tak bisa menghapus kebencianmu terhadap diriku? Saat mata kita bertemu, aku selalu berusaha tuk menyelami pikiranmu. Masuk ke dalam mata nanar itu dan mencoba tuk mencari-cari sesuatu yang bisa mengembalikan mata indahmu itu. Aku mencoba membaca pikiranmu saat kita bertatap mata agar aku tahu dan yakin dengan apa yang kini kau rasakan. Namun, saat mata kita bertemu, tak kusangka bulir-bulir kecil itu jatuh membasahi pipimu. Semakin lama mata kita bertemu, semakin deras bulir-bulir kecil itu jatuh dan tak bisa berhenti. Kamu menangis. Tahukah kamu? Melihat matamu yang nanar itu saja, sudah membuat hatiku retak. Dan kini, aku harus melihat kau menangis. Sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan hatiku. Hatiku patah. Hatiku hancur berkeping-keping. Hatiku terluka. Berdarah. Saat melihat kau menangis, rasanya seperti digoreskan pisau terus menerus dan dicabik-cabik oleh musuh yang siap memangsa hati ini. Tolong, hapus air matamu. Berhentilah menangis. Semakin deras air matamu, semakin deras pula darah yang keluar dari patahan hati ini. 

Maaf... Maafkan aku karena sudah berani-beraninya menggoreskan luka di hatimu. Maafkan aku karena sudah berani menyentuh kehidupanmu dan meninggalkanmu tanpa alasan yang pasti. Maafkan aku yang sudah membuat air matamu jatuh saat kau bertatap mata denganku. Aku hanya ingin tahu apa yang ada dalam pikiranmu, agar aku juga tahu apa yang harus aku lakukan saat ini; berlari menuju dirimu dan memelukmu erat atau berlari meninggalkan dirimu dan membunuh kenangan tentang kita tanpa ampun.
Read More

Kamis, 11 Oktober 2012

Ini bukan hanya sekedar status.

Kita tak lagi sering berbagi, kita tak lagi saling berpandangan, kita tak lagi saling membalas kata demi kata. Kemana kita? Masih pantaskah aku menyebut kita berdua 'kita'? Apa yang terjadi dengan hubungan ini? Beribu tanya hadir di benakku tanpa hentinya. Satu demi satu menyerang kepalaku seperti petir dan badai. Aku sudah berpikir terlalu banyak sampai saat ini. Apa kabarmu? Apa kamu baik-baik saja? Apakah aku tanpa sadar telah menancapkan duri di hatimu atau kepekaanku berkurang? Aku tidak tahu. Yang hanya bisa menjawab adalah kamu. Tapi bagaimana bisa kau menjawab beribu-ribu bahkan berjuta-juta tanyaku kalau aku terus menerus menyimpan semuanya di dalam pikiranku? Bodoh. Aku bodoh.

Aku masih ingat perkataanmu malam itu, kamu tidak memberiku kabar bukan berarti kamu marah atau bosan. Kamu juga berkata bahwa kamu takut kehilangan. Tapi aku masih merasa janggal dan kurang yakin karena melihat semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Semuanya menimbulkan tanya.

Tahukah kamu? Aku membutuhkan perhatianmu. Hubungan ini bukan hanya sekedar status. Aku ingin benar-benar memaknainya. Mungkin terdengar berlebihan, mungkin sedikit egois, tapi apadaya, itulah yang selalu ku pikirkan. Ada yang bilang bahwa aku berhak untuk merasakan rindu, membutuhkan kasih sayangmu, dan hal-hal serupa. Tetapi aku masih merasa tidak pantas. Aku terlalu takut untuk terlanjur melakukan hal yang sama sekali tidak akan berpengaruh untukmu. Aku takut ditinggalkan olehmu karena melakukan hal bodoh seperti itu. 

Maaf. Maaf jika aku memang benar-benar berlebihan. Maaf jika aku terlihat terlalu 'membutuhkan' dan terlihat bodoh. Maaf karena aku terlalu sering memikirkanmu. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku memberimu kepercayaan penuh. Aku akan selalu mencintaimu, apapun yang kau lakukan. Aku tidak benar-benar perduli dengan apapun yang ingin kau lakukan. Aku akan peduli jika saja kamu berhenti mencintaiku. Jangan kau pecahkan kaca kepercayaanku yang masih berdiri kokoh.

785.
Read More

Takkan Ku Biarkan Kau Memelukku Lagi

Tak kusadari, aku bertemu lagi dengan lelaki itu. Lelaki itulah yang pernah menjadi bagian dari masa laluku. Lelaki yang pernah begitu aku cintai, tapi tega meninggalkanku dalam ketidakberdayaan. Lelaki yang begitu ingin aku lupakan. Lelaki yang begitu ingin kubenci. Dia; lelaki yang telah menorehkan luka panjang dan dalam di hatiku. Dia bersikap seakan diriku tidak pernah menjadi bagian istimewa dalam hidupnya, bahkan seakan tidak pernah mengenalnya. Sikapnya membuat diriku merasa tak berarti. Merasa terbuang.

Dulu, aku suka memandangi wajahnya lewat foto ataupun secara langsung. Namun sekarang, setiap kali memandangi wajahnya hatiku seakan teriris. Rasanya nyeri menusuk-nusuk hatiku saat ingatan itu membayang mataku. Kejadian itu membuat hatiku terluka amat dalam. Luka yang melenyapkan semua cinta yang kumiliki untuknya, dalam sekejap. 

Kini dia ada di hadapanku. Menatapku. Matanya nanar. Selama beberapa saat kami hanya saling memandang tanpa bisa berkata-kata. Aku memejamkan mata sesaat, berharap bayangannya segera menghilang Berharap ini semua hanyalah ilusi. Namun, saat aku kembali membuka mata, sosok itu masih ada di hadapanku. Masih menatapku dengan pandangan kosong. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, tetapi aku tak menyangka dia masih memiliki pengaruh yang begitu kuat atas diriku. Dia masih sanggup membuat jantungku berdebar resah.Tiba-tiba saja aku bingung saat sebuah perasaan aneh merambat hatiku. Perasaan yang tidak aku pahami.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan keresahanku. Berusaha menahan nyeri yang mulai merayapi hatiku saat luka yang tertinggal di sana mulai terkelupas, satu per satu.

Aku tak sanggup lagi meneruskan. Aku tak sanggup lagi menatap matanya. Aku takut... Takut tak dapat menguasai diri. Takut dinding yang melindungi hatiku roboh. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi pada lelaki itu. Lelaki yang sudah menghancurkan cintaku. Aku berusaha menutup hatiku rapat-rapat dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin. Aku tak ingin dia menyentuhku lagi semudah yang pernah dia lakukan. Aku takkan membiarkannya memelukku seerat dulu.

Kulawan semua godaan yang menghampiri dan ingin pergi jauh-jauh darinya. Ku katakan sudah berhenti memikirkannya, tetapi aku sendiri ragu akan hal itu. Aku benci tak jujur kepadanya. Namun, lebih khawatir kalau dia akan membuatku jatuh cinta dan terluka lagi untuk kedua kalinya.




Read More

Membuka topeng atau berubah? Hati-hatilah dalam menyimpulkan.

Disaat dua/lebih pribadi bersatu dalam satu ikatan hubungan, pasti salah satu dari mereka selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik, tetapi ia tidak sadar, terkadang dia melakukan hal terbaik tetapi tidak sesuai dengan pribadi atau karakternya. Bisa dibilang, tidak menjadi diri sendiri. Orang itu - mungkin - selalu mencoba atau pun memaksakan dirinya untuk menjadi lebih peka, lebih khawatir, lebih memperhatikan hal-hal kecil dan hal-hal serupa sedangkan dirinya sendiri bukanlah orang yang peka, atau perhatian terhadap hal-hal sepele. Berangkat dari situ, kita bisa melihat bahwa orang itu berusaha untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Akhirnya, pasangannya terlanjur menaruh simpati kepada pribadi yang sama sekali bukan pribadi pasangannya. Pasti suatu saat orang yang menjadi orang lain itu mulai lelah atau pun bosan melakukan hal-hal yang bukan dirinya sampai-sampai dia berhenti melakukannya, dan akhirnya kembali ke sikap dan sifat yang sebenarnya yang membuat pasangannya berpikir dia telah berubah. Bisa disimpulkan bahwa tidak ada orang yang berubah dalam suatu hubungan, yang ada hanyalah orang itu kembali menjadi dirinya sendiri.

Tapi...

Dilain sisi, sebenarnya seseorang memang benar-benar bisa berubah. Apa yang membuat seseorang berubah? Seseorang berubah disebabkan oleh bagaimana orang lain memperlakukannya. Disaat seseorang menyakiti orang lain atau terpengaruh akan hal-hal sekitar, pasti akan ada yang mulai lari dari sikapnya yang sebenarnya. Ada hal yang pasti membuatnya berubah. Mungkin terkadang hanya sementara, tetapi karena terlalu sering terjadi secara berulang-ulang, maka jadilah kebiasaan dan akhirnya melekat pada dirinya, sehingga menjadi kepribadiannya/karakter.

Seseorang belum tentu benar-benar berubah, mungkin dia hanya lelah bersandiwara dan akhirnya menampilkan sifat dan sikap aslinya ATAU dia telah menjadi dirinya sendiri tanpa bersandiwara, tetapi ada perlakuan yang membuatnya berubah. Jadi, hati-hatilah dalam menyikapi orang lain. Lakukanlah se-natural mungkin.
Read More

Mari menulis. Mari berbagi.

Got too much things to say?
Write it!
Submit your writing(s) to us : untoldf@gmail.com

We'll post it to our blog!
http://untoldfeelingsuntoldfeelings.blogspot.com/
Read More

Rabu, 10 Oktober 2012

Aku benci kata-kata.

Air mataku memaksa keluar. Aku dapat merasakan bulir-bulir bening itu mulai membasahi kantung mataku. Tolong,jangan malam ini. Jangan sampai air mataku jatuh hari ini. Aku tak ingin ada sedikitpun air mata menjadi satu dari banyak hal yang ada di dalam hubungan kita. Aku bingung,aku khawatir, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kata-kata itu masih menghantui benakku, "Benarkah dia tahu kapan dia menempatkan waktunya untukmu? Lihatlah, kamu sedang sendiri. Dimana dia?". Aku tersentak mendengarnya, aku terdiam, aku berpikir, dan aku pun bertanya kepada diriku sendiri, "Apa yang harus ku jawab?". Dengan nada yang sangat yakin aku berkata, "Kita gak selalu harus bersama-sama.. Yang penting ad...." Lalu, si pemberi pertanyaan itu pergi begitu saja. Yang penting adalah kami saling mencintai, itu yang ingin ku katakan, tapi ia pergi begitu saja tanpa mendengar aku selesai berbicara. Ia hanya meninggalkan tanya di benakku yang sampai saat ini masih saja ada. Tuhan, yakinkan aku tentang perasaannya, yakinkan aku tentang perkataannya. Jangan buat aku menyimpulkan bahwa kata-kata saat ini bukanlah hal yang perlu diperhitungkan karena ada sesuatu yang lebih real, yaitu perbuatan. Aku tersesat dalam pikiranku sendiri, tolong bantu aku keluar.


Sedikit demi sedikit, aku mulai membenci kata-kata.
10-10-12
Read More

Minggu, 07 Oktober 2012

10.06

Kini harapan itu hilang dibawa angin kecang. Entah kemana arah angin itu pergi. Entah berapa lama dia akan pergi dan entah kapan dia akan kembali angin kecang itu akan membawa harapan itu kembali. Aku akan menunggu dan menunggu sampai akan ada saatnya dimana angin itu datang dan membawa kembali harapan itu.

Apa yang bisa aku lakukan saat harapan itu kembali? Menangis? Tertawa? Apakah dengan tertawa dia akan mencintaiku? Membalas perasaan dan harapan yang aku tujukan pada dirinya? Walaupun aku menangis, itu tak akan mengubah apapun. Malah itu membuat aku terlihat lemah. Dan jika aku tertawa, itu juga takkan membuat suatu perubahan. Takkan ada satupun yang akan berubah. Untuk apa aku melakukan semua itu jika hanya akan berujung sia-sia?

Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku mencintainya bukan mempermainkannya! Aku membutuhkannya bukan untuk membuatnya terluka! Selama jarum jam berputar, selama itu pula cinta ini aku berikan kepadanya.

Aku adalah aku walaupun terkadang aku bukanlah aku yang sebenarnya. Aku menjadi orang lain agar kamu bisa melihatku. Sangat bodoh dan terlalu bodoh jika aku berharap kamu membalas cintaku. Tapi andai kamu tahu, aku mencintaimu sekarang dan selamanya.

Muadirlove
Berbahagialah
 
Read More
5/10/2012

Perlahan rasa ini membunuhku.
Aku tak bisa lagi menahan rasa ini.
Aku tak kuat seperti karang yang di terjang ombak.
Aku tak kuat seperti pohon besar yang di sepa angin.

Aku?
Aku hanyalah seorang gadis yang menginginkan cintamu dan aku bukan siapa-siapamu.

Rasa ini?
Rasa ini akankah ku pendam selalu?
Akankah rasa ini hilang?
Akankah rasa ini pergi?

Aku tak tahu semua itu.
Aku tak mengerti.
Aku tak bisa menjelaskannya.
Rasa ini adalah perasaan yang kini kurasakan dan rasanya membunuh.
 
Tuhan...
Aku menyayanginya dan juga membutuhkannya.
Apakah aku terlalu dalam mencintainya?
Atau aku terlalu membesar-besarkan masalah ini?
Apakah aku salah mencintainya, Tuhan?

Yang ku tahu saat ini adalah aku menyayanginya dan membutuhkannya.
Apakah aku serakah karena menginginkan cintanya yang utuh?
Apakah wajar kalau aku mencintainya?
Aku tak memaksanya untuk membalas cintaku.

Tapi,
Jika suatu saat nanti dia datang kepadaku, dengan senang hati akan aku terima dia.
Dan aku berharap dia akan menjadi yang terakhir.

Aku mencintainya sekarang dan selamanya...
Ily! :")
Read More

Jumat, 05 Oktober 2012

Menangislah...

Tak selamanya pedih itu berarti sakit. Kadang, tangis adalah bahagia yang tidak kita sadari. Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Betapa tidak ada makna hidup ketika kita tak pernah punya air mata. Tawa, mungkin tak pernah terselami artinya saat mata kita kering dari air mata. Menangislah. Menangislah sejadi-jadinya jika itu yang menjadi apa yang paling kita inginkan saat ini, detik ini. Suatu saat, tangis yang akan menjadikan kita ratu dan raja yang sangat berbahagia.
Read More

Aku lelah bersandiwara.

Aku lelah bersandiwara.

Aku lelah terus menerus begini. Bersandiwara seakan-akan aku tidak merasakan sakit. Bersandiwara seakan-akan semua baik-baik saja. Tahukah kamu, apa yang aku rasakan ketika aku melihatmu berdua dengannya? Yang ku rasakan hanyalah sakit. Aku sakit karena aku tahu apa perasaanmu kepadaku. Aku sakit karena aku tahu, aku yang seharusnya kau beri cinta yang tulus. Terdengar egois bukan? Terlalu banyak yang memintaku untuk tidak terlarut-larut dalam perkara ini, tapi inilah yang ku pikirkan. Entah bagaimana, semua persoalan yang aku hadapi saat ini selalu menyerangku di kala aku terdiam. Aku lelah menganggap bahwa jika aku terus bersandiwara seperti ini, maka aku akan mendapatkanmu nanti. Aku khawatir semuanya terlambat. Bagaimana jika kau akhirnya benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati? Aku tidak ingin sakit yang kurasakan saat ini, hanyalah sakit yang sia-sia, bukan sakit yang nantinya akan tergantikan menjadi kebahagiaan.

Aku berpikir, sebaiknya kau jujur kepadanya tentang apa yang kau rasakan saat ini, sebelum semuanya berjalan semakin jauh. Karena semakin jauh kalian berdua berjalan beriringan, semakin besar sakit yang akan kalian rasakan saat kalian hendak berjalan masing- masing ke arah yang berbeda. Di sisi lain aku juga prihatin kepadanya, yang tidak mendapatkan cintamu seutuhnya. Aku prihatin karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan olehmu. Jika kau benar-benar perduli padanya atau padaku, kau tak akan setega ini menggantungkan aku dan dia. Mungkin dia tidak merasa demikian, tapi secara tidak langsung, dia berada di posisi 'digantungkan'.Yang dia tahu hanyalah kamu mencintainya dan tidak memiliki setitik perasaan padaku. Itu hanya yang dia tahu. Tapi kita semua tahu, apa yang sebenarnya ada dalam benakmu dan hatimu. 

Tapi entahlah. Kata hanyalah kata, sebelum diwujudkan. Yang bisa menjawab semua pertanyaanku hanyalah waktu. Waktu yang akan menunjukan siapa sebenarnya yang akan menjadi pilihanmu kelak. Aku tidak tahu apakah aku siap untuk mengetahuinya atau tidak. Dan semoga dia juga siap untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disini.

Take your time and just so you know, I will always wait for you.
Read More

Kamis, 04 Oktober 2012

Nyatanya Aku Dilupakan

Aku bahagia karena mencintai kalian.
Dan aku terluka karena mencintai kalian, juga.

Sudah cukup lama aku terluka. Lalu mengapa kalian datang dan memperpanjang waktu untuk aku merasakan luka? Ternyata semuanya sama. Manis yang kudapatkan saat awal hubungan kita dan pahit yang kudapat di akhir hubungan kita.

Aku mencintai kalian karena aku ingin bahagia bukannya ingin menangis karena terluka oleh cinta kalian. Mengapa selalu saja luka yang kudapat disetiap hubungan yang ku jalin? Sebodoh itukah diriku hingga aku percaya dengan omongan kalian? Sepolos itukah diriku yang tak pernah menyadari kebohongan yang tersimpan dibalik ucapan kalian? Sebegitu terpesonanya aku saat menatap mata itu? Nyatanya, kalian menyembunyikan banyak kebohongan di balik mata itu.

Mengapa luka yang selalu aku dapatkan? Mengapa disaat ku benar-benar jatuh cinta, benar-benar merasakan cinta, luka yang selalu datang menghampiriku? Mengapa disaat aku sangat percaya dengan omongan kalian, sangat berharap hari-hari yang indah dari kalian, sangat percaya dengan semua imajinasi-imajinasi yang kalian ciptakan, kalian malah pergi menjauh. Pergi meninggalkanku yang bingung. Yang terluka. Yang hancur. Yang...yang...yang entahlah. Mengapa kalian melupakanku seakan-akan aku tak pernah ada di kehidupan kalian? Sekejam itukah kalian? Atau ini yang kalian inginkan? Ini yang kalian harapkan? Melihat aku terluka karena cinta yang kalian beri, melihat aku memohon-mohon pada kalian untuk kembali, melihat aku...jatuh.

Aku menyimpan semua kenangan yang kau, dia dan aku buat. Aku menyimpan semuanya. Aku sadar disaat aku merindukan kalian, aku tak mungkin mengirim kalian sebuah pesan singkat atau menelepon kalian untuk menghapus rindu yang selalu memaksa aku untuk mencari kalian. Aku hanya bisa melihat foto, membaca kembali pesan singkat dari kalian yang sempat kusimpan, dan mendengar rekaman suara kalian. Hanya itu yang bisa menghapus rinduku. Apalagi yang bisa kulakukan selain melihat dan mengingat kenangan kita dulu?

Aku sempat membaca kembali pesan singkat yang kalian kirimkan untukku. Kalian pernah bilang kepadaku, jika suatu saat nanti kita berpisah kita tak boleh saling membenci. Kita harus tetap saling menyayangi walau hanya sebatas teman. Kita tetap bisa bercakap-cakap walau tak bisa seperti dulu. Kita bisa melakukan hal yang sama seperti saat kita masih menjadi satu walau dalam keadaan yang berbeda; teman. Dan aku sempat membantah kalau kita bisa melakukan itu. Menurutku itu tidak mungkin jika kita masih akan berkomunikasi disaat kita berpisah. Karena selama perjalanan cintaku, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengan seseorang yang memilih untuk berpisah. Aku rasa itu hal yang aneh. Kalau memang masih ingin menjalin hubungan, lalu mengapa memilih untuk berpisah? Kalian selalu meyakinkanku kalau kita bisa. Kita bisa berkomunikasi walau kita sudah berpisah dan aku mencoba untuk yakin dengan perkataan itu dan aku mencoba melakukannya walau terkadang itu menyakitkan saat aku sadar saat ini kita berkomunikasi tapi hanya sebatas teman.

Tapi apa nyatanya? Sekuat tenaga aku mencoba untuk selalu berkomunikasi dengan kalian. Aku mencoba mengalahkan sakit hatiku saat aku berkomunikasi dengan kalian. Aku mencoba membuang jauh-jauh perasaan untuk kembali kepada kalian saat kita bicara. Aku mencoba untuk menganggap kalian sebagai teman. Tapi andai kalian tahu, sulit bagiku untuk membuang perasaan cintaku dan menggantikannya menjadi rasa sayang terhadap teman. Disaat aku mencoba tuk berkomunikasi dengan kalian, kalian malah pergi. Kalian menganggap aku tak ada. Kalian menganggap aku sebagai seorang gadis yang tidak kalian kenal. Kalian menganggap aku hanyalah seseorang yang mencoba tuk mencari perhatian. Kalian menganggap aku sebagai boneka yang bisa kalian mainkan.

Sebenarnya apa mau kalian? Mencoba tuk mempermainkanku? Mencoba tuk melukaiku? Mencoba tuk menyakitiku? Apa kalian kurang bahagia saat melihat aku terluka sangat dalam saat kalian mengatakan kalian sayang kepadaku dan takkan meninggalkanku lalu dalam hitungan jam kalian tiba-tiba menghilang. Kalian meningalkanku. Kalian melupakan semua yang kalian ucapkan kepadaku seakan-akan kalian tak pernah mengatakan apa-apa padaku. Sebenarnya apa salahku hingga dengan mudahnya kalian hancurkan aku?

I'm still just a stranger.


Read More

Rabu, 03 Oktober 2012

Seharusnya Kamu Mengerti

Entah bagaimana ku menyimpulkan perasaan ini. Aku terlalu mudah untuk memaafkan, terlalu mudah untuk dipengaruhi dan terlalu menggunakan perasaan. Langkah yang sudah kuambil sebelum kau masuk dalam kehidupanku lagi semata-mata untuk mengenyahkanmu dari ingatanku. Tapi itu sulit bagiku, kenangan kita yang tersimpan begitu berarti walau singkat. Segala sakit yang pernah kau beri selalu terabaikan oleh cinta yang begitu dalam di hati ini.

Aku telah mengambil satu tindakan untuk bisa melupakanmu karena pada saat itu yang aku tahu kita tak akan bisa kembali dan kau sudah melupakanku. Aku menyembuhkan lukaku dengan melibatkan orang lain, dengan penuh harapan bahwa dia bisa merebut hatiku yang telah kau curi. Namun harapan hanyalah sekedar harapan dan tidak mudah menjadi kenyataan. Kau datang padaku dengan membawa cinta itu lagi. Ku akui aku terlalu mudah untuk kau taklukkan dan aku terlalu lemah untuk memaafkanmu.

Tapi ada satu hal yang hampir kulupakan. Aku masih memiliki satu tanggung jawab. Ada seseorang yang membutuhkan hatiku seutuhnya. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya meskipun terkadang perasaanku menjadi korban. Aku tidak menyesal atas itu semua karena sudah sepantasnya aku mengorbankan perasaanku. Aku yang membiarkannya masuk di kehidupanku. Dia sudah mengisi kekosongan hari-hariku saat kau tak ada. Dia yang membuatku merasakan lagi cinta yang sempurna meskipun sulit bagiku untuk membalasnya. Tapi aku tak akan mungkin meninggalkan dia; dia yang menyembuhkan luka dihatiku. Tak akan mungkin aku meninggalkan dia untuk kembali padamu; kamu yang menyebabkan luka itu. Namun bagaimana caranya aku bisa memberikan hatiku yang utuh padanya jika kamu selalu merebut hatiku kembali? Tapi aku tak bisa menyalahkanmu karena aku yang tidak memiliki pendirian.

Aku bisa saja memilih salah satu dari kalian. Aku bisa saja mengabaikanmu dan mengubur dalam-dalam perasaanku. Tapi segala pengorbanan yang telah kau lakukan selama ini membuatku luluh. Meskipun kau pernah melakukan kesalahan, tapi apa yang kau korbankan sejauh ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau sungguh menyesali itu semua. Atau aku bisa saja meninggalkan dia untuk memanjakan perasaanku. Tapi aku tak sejahat itu meskipun aku tahu membohonginya bukan merupakan solusi dan aku belum siap melihatnya terluka. Sekali lagi, aku tak mau mengecewakannya.

Masalah tersiksanya perasaanku itu sudah sepantasnya aku dapatkan akibat kelalaian dan segala kebodohanku. Dan dengan tersiksanya perasaanmu, sungguh itu bukan karena aku ingin membalas sakit yang dulu pernah kau beri. Aku sungguh tidak sengaja. Aku tak pernah tahu bahwa ini akan terjadi. Kuharap kau bisa mengerti. Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Aku juga tak ingin mengecewakanmu.

Untuk saat ini, dia yang harus ku pertanggung jawabkan.
Read More

Selasa, 02 Oktober 2012

Aku hanyalah seonggok sampah yang menunggu giliran untuk dibuang.

Terima kasih untuk 54 hari, 3240 jam, 194400 menit, dan 11664000 yang kau berikan. Terlalu manis luka yang kau berikan sehingga tak terasa 54 hari telah berlalu. Aku-hanya-ingin-menjadi-yang-terakhir-untukmu. Mendapatkan kata-kata itu bukan hanya sekedar mimpi. Ya, mungkin aku hanyalah boneka kecil yang bermimpi mendapatkan pemilik yang mengerti diriku, yang selalu membawaku kemanapun ia pergi, yang selalu menjagaku, menikmati setiap waktu, dan tak rela diambil siapapun seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kecilnya. Mungkin itu hanyalah harapan yang disimpan erat di dalam hati kemudian membusuk menjadi bangkai. Bangkai seperti sampah. Karena aku sadar, aku hanya sampah yang mengganggu keseharianmu. Mungkin kamu bisa saja mengelak bahwa aku bukan sampah, namun apa daya jika bonekamu merasa sudah tak berguna lagi dan merasa bahwa dirinya sudah dekil, kusam, dan pantas untuk dihina ? Aku hanya butuh kebahagiaan, bukan kesedihan.
Read More

Lagi-Lagi Rindu Itu Menghampiriku

Lagi-lagi rindu itu datang menggetarkan hati, mengobrak-abrik isi pikiran dan membangkitkan semua memori yang kusimpan disudut hati tentangmu. Entah mengapa aku tiba-tiba merindukanmu. Tiba-tiba teringat akan semua hal yang sering kita lakukan bersama. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Merasakan rindu? Atau rindu itu hanya menghampiriku saja? Kuharap kau juga merindukanku, walau sedikit peluang bagiku untuk mendapatkan balasan rindu itu; dan itu hanya darimu.

Aku tak pernah berpura-pura saat mengatakan ungkapan rindu kepadamu. Bagiku, ini bukan hanya sekedar ungkapan rindu yang hanya berhenti di bibir saja dan bukan caraku untuk mendapatkan perhatian darimu. Tapi lebih dari itu. Ungkapan rindu itu adalah kejujuran hati yang coba aku ungkapkan kepadamu. Saat jarak memisahkan kita, sepertinya tidaklah salah jika aku ingin mengungkapan rasa rindu yang bersemayam di pikiranku.

Aku rindu saat kita sedang tidak akur dan terlibat debat yang tak berujung. Aku rindu kamu memarahiku karena kesalahan yang aku buat secara sengaja ataupun tidak sengaja. Aku rindu saat kamu ada diseberang sana, setia mendengarkan segala keluh kesahku dan akhirnya menyemangatiku agar aku bisa melalui hari demi hari dengan baik. Aku rindu saat kamu menghapus sedihku dan mengubahnya menjadi tawa. Aku rindu saat malam tiba, kemesraan itu datang dengan sendirinya dan menyelimuti dirimu dan diriku yang saling melontarkan kata cinta tanpa bisa kita hentikan. Aku rindu saat semuanya mengalir seperti air dan tak ada seorang pun yang bisa menghentikan kita. Aku rindu saat kamu masih menjadi milikku.

Tapi saat kamu mengatakan kata cinta, apakah aku percaya pada bibir yang mengucap kata cinta itu? Entahlah. Entah mengapa jika bibir itu milikmu, aku percaya. Karena kata apapun yang terlontar dari bibirmu aku selalu percaya walau itu hanya kebohongan yang selalu kamu tutupi dengan sempurna. Entah aku bodoh atau polos. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Sudah terlihat jelas, rindu itu hanya milikku. Tapi mengapa masih saja ada setitik harapan di dalam sana yang mengharapkan kamu juga merasakan rindu itu? Sebodoh itukah diriku? Aku tak tahu. Yang ku tahu, aku rindu saat-saat bersamamu. Aku rindu semua hal yang telah terjadi pada diriku yang dulu sudah aku sia-siakan. Rindu itu datang saat aku tak bisa lagi memelukmu. Rindu itu datang saat kau pergi menjauh. Rindu itu datang saat aku tak bisa lagi membaginya bersamamu.

Mungkin tidaklah salah hanya karena aku tak ingin rinduku berakhir sia-sia. Aku selalu berharap, kamu tahu dan mengerti apa yang tengah aku rasakan, kapan pun itu.
Read More

Menghilang bersama keheningan.


Hal yang sama terjadi lagi. Semua ini membuatku berpikir bahwa dalam suatu hubungan, pasti ada pasang surut. Karena saat ini kita sedang tidak berada diatas, tapi kita sedang berada di masa kritis dimana kita kekurangan komunikasi. Kita? Mungkin aku saja. Mungkin aku saja yang merasakan hal ini dan mungkin hanya aku yang merasakan takut yang menerkam. Aku ingin menyapamu, tapi aku terlalu takut untuk menuai kecewa. Aku terlalu takut untuk mendapatkan penolakan. Dan aku takut merasa tidak diinginkan. Apa yang kurang dari kita? Tidak ada. Sama sekali tidak ada yang kurang. Hanya saja, mungkin aku terlalu berlebihan sehingga disaat salah satu dari kita sedikit menghilang bersama diam, aku merasakan bahwa ada yang salah, tapi sebenarnya semuanya baik-baik saja. 

Pasti kau ingat dengan perkataanku bahwa aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu, dan inilah yang terbaik dariku untukmu. Diam. Diam dan membiarkanmu pergi dan datang kepadaku kapan saja. Aku memberikan waktu untukmu untuk tidak begitu terikat dariku. Tapi sebuah diam yang hadir diantara kita membuatku takut akan rasa bosan yang bisa saja hadir dalam benakmu. Aku juga pernah bilang aku akan bertanya padamu bagaimana caranya agar hubungan ini tidak lagi membosankan bila nanti kau bosan akan hubungan ini. Dan saat ini aku berpikir, mungkin kamu sudah merasakan bosan. Inikah saatnya dimana aku harus bertanya? Baiklah. Apa cara yang bisa membuatmu tidak bosan akan hubungan kita? Salahkah aku? Salahkah aku membiarkanmu bebas? Apa ini bukan hal yang terbaik bagimu? Aku terlihat bodoh. Aku bertanya seakan-akan kau mendengar. 

Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Maaf karena aku tidak mengatakan ini semua kepadamu. Aku diam bukan karena aku tidak perduli akan hubungan kita, tapi aku hanya tidak ingin memaksamu menjadi seperti apa yang aku inginkan. Aku hanya ingin menerimamu apa adanya. Sama seperti bagaimana aku harus menjalani hubungan ini sesuai dengan caramu. Yang terjadi saat ini hanyalah satu dari banyak kerikil di jalan yang akan kita pijaki. Ini barulah awal dari semuanya. Semoga kita akan baik-baik saja.

Suatu hubungan tidak selamanya berada dalam saat-saat bahagia. Ada saatnya hubungan itu merenggang atau pun menjadi lebih erat. Itu namanya manis pahit menjalin suatu hubungan. Tanpa hal itu mungkin kita takkan pernah saling memahami. Benarkah? Kita lihat saja nanti. Hubungan yang sedang berada dalam saat-saat renggangnya menghadirkan rasa takut. Takut kehilangan,takut secara tidak sengaja telah menyakiti, dan takut suatu saat nanti hubungan itu tak kan lagi ada atau kita bisa menyebutnya 'berakhir'. Renggangnya suatu hubungan disebabkan oleh diam yang hadir di tengah-tengah hal itu. Ya,bisa dibilang lost-communication.

Tell me that you'll never let me go, because I'm afraid of losing you. And remember the promise that we made together.

P.S : I LOVE YOU
Read More

Senin, 01 Oktober 2012

Perasaan apa ini ?

Perasaan apa ini ? Suka, cinta, sayang, atau hanya sekedar kagum ? Aku tak mengerti dengan perasaan yang kini aku rasakan. Apakah aku menginginkan kamu untuk menjadi seseorang yang istimewa bagiku atau mungkin aku hanya ingin kamu menjadi teman biasa bagiku ? Entahlah. Perasaan ini membabi buta. Rasanya ingin ku buang semua rasa yang pernah aku rasakan padamu. Semuanya hanyalah sampah, sampah yang manis untuk dikenang. Cukup bagiku untuk mengenang, tak mungkin aku berharap lebih.

Aku jahat, jahat karena telah menginginkanmu. Tak pantas tuk diriku mendapatkan seorang pangeran impian. Pangeran yang hanya ada dalam dongeng belaka, namun kali ini pangeran itu benar benar ada dan nyata didepanku. Ya, pangeran itu adalah kamu. Kamu yang setiap hari kupandang, kadang kembali memberikan pandangan padaku namun sering pula acuh tak acuh. Ada kalanya kau bersikap seperti kau memilikiku. Kau memegang tanganku, bercerita mengenai kehidupanmu yang indah itu sampai bercanda denganku. Kau bahkan tidak merasakan kalau aku menikmatinya bahkan sangat menikmatinya. Namun terkadang kau memperlakukanku seperti musuhmu sendiri. Tak memanggilku, tak berbicara, bahkan sekedar melihatku kau tak mau.Aku bisa gila dengan semua perasaan ini.

Suatu saat, kau akan mengerti tentang semua ini. Aku hanya berharap ketika saat itu datang, kau tidak akan membenciku.

Read More

Aku Rindu

Mungkin benar juga, kita perlu waktu untuk berdiam diri, tapi itu hanya sejenak saja. Mungkin tidaklah salah aku pendam dulu rasa rindu ini dan membiarkan hati ini merintih dan meratap, tapi sejenak saja. 

Sedang apa kamu? Saat kututup mataku dalam tidur lelap, semua tampak begitu nyata. Dalam mimpiku, kutemui kau dengan senyummu yang membuat ku jungkir balik karenanya. Andai saja tak ada jarak yang mengunci langkah kaki, ingin segera kusandarkan semua gelisah dan gundahku di pundakmu. Mencari keteduhan yang ada dalam dirimu dan menghapus segala tangis semalaman.

Saat ini, maafkan jika aku tak mampu lagi menyembunyikan peraaan ini. Maafkan jika aku tak mampu menahan rindu yang kini bergejolak di dalam diri. Mungkinkah ada sedetik masa untukku dan untukmu merangkai kembali barisan cinta rindu yang sempat tertunda? Biar rasa iri di dadaku sirna, biar sendiriku tak hampa dalam keramaian. Tapi mungkinkah cerita itu berulang?

Maaf jika aku tak lagi mampu berkata-kata untuk mengungkapkan setiap rindu yang sedari pertama aku rasakan dan tak pernah aku akui.

Tapi apakah kini aku harus membunuh perasaanku? Melepaskan segala rindu yang mengendap menjadi debu beterbangan dan bersatu bersama langit yang membentang. Tapi, apakah aku mampu? Sementara perasaan ini telah menjelma menjadi batu. Kini aku hidup dalam diam, jarak, bahkan luka sekalipun.

Jika memang akhirnya aku harus membunuh perasaan ini, izinkan aku untuk tetap mengenangmu. Tidak karena aku masih menginginkan kehadiranmu lagi, tapi karena cintaku kepadamu sangat sulit untuk dibunuh. Izinkan aku tetap mencintaimu, walau hanya diam, dalam senyap.

Hadirlah dalam mimpiku malam ini, sekejap saja telah cukup bagiku.
Read More
Kita saling menunggu dalam harap. 
Read More

Tuhan, tolong jangan buat aku bosan.

Suatu hubungan tidak selamanya on fire. Pasti ada saat dimana kedua belah pihak tidak tahu harus melakukan apa dan berkata apa, karena keduanya juga melakukan hal yang sama secara berulang. Tapi pasti salah satu bahkan mungkin keduanya bingung apakah ada salah satu dari mereka yang bosan atau tidak. Apa jalan keluarnya? Itulah yang saat ini dipikirkan olehku. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan untuk tidak membuatku bosan, karena aku tak pernah ingin merasakan bosan.
Read More

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena