Senin, 01 Oktober 2012

Aku Rindu

Mungkin benar juga, kita perlu waktu untuk berdiam diri, tapi itu hanya sejenak saja. Mungkin tidaklah salah aku pendam dulu rasa rindu ini dan membiarkan hati ini merintih dan meratap, tapi sejenak saja. 

Sedang apa kamu? Saat kututup mataku dalam tidur lelap, semua tampak begitu nyata. Dalam mimpiku, kutemui kau dengan senyummu yang membuat ku jungkir balik karenanya. Andai saja tak ada jarak yang mengunci langkah kaki, ingin segera kusandarkan semua gelisah dan gundahku di pundakmu. Mencari keteduhan yang ada dalam dirimu dan menghapus segala tangis semalaman.

Saat ini, maafkan jika aku tak mampu lagi menyembunyikan peraaan ini. Maafkan jika aku tak mampu menahan rindu yang kini bergejolak di dalam diri. Mungkinkah ada sedetik masa untukku dan untukmu merangkai kembali barisan cinta rindu yang sempat tertunda? Biar rasa iri di dadaku sirna, biar sendiriku tak hampa dalam keramaian. Tapi mungkinkah cerita itu berulang?

Maaf jika aku tak lagi mampu berkata-kata untuk mengungkapkan setiap rindu yang sedari pertama aku rasakan dan tak pernah aku akui.

Tapi apakah kini aku harus membunuh perasaanku? Melepaskan segala rindu yang mengendap menjadi debu beterbangan dan bersatu bersama langit yang membentang. Tapi, apakah aku mampu? Sementara perasaan ini telah menjelma menjadi batu. Kini aku hidup dalam diam, jarak, bahkan luka sekalipun.

Jika memang akhirnya aku harus membunuh perasaan ini, izinkan aku untuk tetap mengenangmu. Tidak karena aku masih menginginkan kehadiranmu lagi, tapi karena cintaku kepadamu sangat sulit untuk dibunuh. Izinkan aku tetap mencintaimu, walau hanya diam, dalam senyap.

Hadirlah dalam mimpiku malam ini, sekejap saja telah cukup bagiku.

0 komentar:

Posting Komentar

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena