Selasa, 16 Oktober 2012

Maafkan Aku

Maaf... Maaf karena aku telah menggoreskan luka di hatimu. Aku telah mematahkan kepercayaan yang kau beri untukku. Setelah ku merusak kepercayaanmu, aku bisa melihat kekecewaan yang sangat jelas terlihat di wajahmu. Aku bisa melihat kekecewaan yang teramat dalam walaupun kau berusaha untuk menyembunyikannya dengan senyummu. Aku bisa merasakan bagaimana terlukanya kau saat ini. Setiap aku memandangmu dan kau membalas pandanganku, aku bisa melihat kobaran api kebencian dan dendam di matamu dan aku bisa melihat luka di matamu. Mata indah yang dulu sering ku tatap, sering ku rindukan, kini terlihat nanar. Mata indahmu hilang dan digantikan dengan mata yang penuh dengan kebencian. Sesakit itukah dirimu hingga kau tak bisa menghapus kebencianmu terhadap diriku? Saat mata kita bertemu, aku selalu berusaha tuk menyelami pikiranmu. Masuk ke dalam mata nanar itu dan mencoba tuk mencari-cari sesuatu yang bisa mengembalikan mata indahmu itu. Aku mencoba membaca pikiranmu saat kita bertatap mata agar aku tahu dan yakin dengan apa yang kini kau rasakan. Namun, saat mata kita bertemu, tak kusangka bulir-bulir kecil itu jatuh membasahi pipimu. Semakin lama mata kita bertemu, semakin deras bulir-bulir kecil itu jatuh dan tak bisa berhenti. Kamu menangis. Tahukah kamu? Melihat matamu yang nanar itu saja, sudah membuat hatiku retak. Dan kini, aku harus melihat kau menangis. Sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan hatiku. Hatiku patah. Hatiku hancur berkeping-keping. Hatiku terluka. Berdarah. Saat melihat kau menangis, rasanya seperti digoreskan pisau terus menerus dan dicabik-cabik oleh musuh yang siap memangsa hati ini. Tolong, hapus air matamu. Berhentilah menangis. Semakin deras air matamu, semakin deras pula darah yang keluar dari patahan hati ini. 

Maaf... Maafkan aku karena sudah berani-beraninya menggoreskan luka di hatimu. Maafkan aku karena sudah berani menyentuh kehidupanmu dan meninggalkanmu tanpa alasan yang pasti. Maafkan aku yang sudah membuat air matamu jatuh saat kau bertatap mata denganku. Aku hanya ingin tahu apa yang ada dalam pikiranmu, agar aku juga tahu apa yang harus aku lakukan saat ini; berlari menuju dirimu dan memelukmu erat atau berlari meninggalkan dirimu dan membunuh kenangan tentang kita tanpa ampun.

0 komentar:

Posting Komentar

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena