Senin, 31 Maret 2014

Bahkan dengan semua janji yang kau buat, takkan merubah apa yang sudah seharusnya terjadi. Semua orang tahu, dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan. Hanya saja, kau menutupi kemungkinan perpisahan di antara kita karena (mungkin) kau takut untuk ditinggalkan untuk yang kesekian kalinya.

Sudah kukatakan, ini takkan berjalan seperti yang kita harapkan. Sudah kukatakan perjalanan kita masih panjang. Tapi apa? Tak sedikitpun ucapanku yang kau dengarkan. Kau hanya melihat apa yang sudah ada di hadapanmu saat itu bukan apa yang akan ada di hadapanmu nanti. Kau bilang takkan ada perpisahan dan takkan ada yang berubah. Kau mengatakan itu karena saat itu kau cinta dan takut kehilangan. Tapi sekarang, apa yang kau bilang takkan ada, kini hadir di antara kita. Kau berubah, entah sejak kapan. Kau lebih sering meninggalkanku dan melupakanku. Kau terlalu sibuk dengan duniamu. Dan perpisahan itu. Perpisahan itu semakin dekat dengan kita. Sebentar lagi akan ada yang ditinggalkan dari hubungan ini dan sudah jelas siapa yang akan meninggalkan; kamu.

Aku tak mengerti. Mengapa dulu, disaat aku tak percaya dengan apa yang kau ucapkan, kau terlihat begitu nyata, kau terlihat seperti tujuan terakhirku dan kau membuatku percaya padamu. Dan, disaat aku percaya padamu, kau terlihat seperti ilusi bagiku, kau terlihat seperti dia dan kau membuatku terlihat bodoh dengan mempercayai ucapanmu.

Dengan apa yang terjadi di antara kita; kau berubah dan kau akan meninggalkan, apa lagi yang harus aku pertahankan? Jawabanku; tak ada.



Mengapa disaat aku menganggap seseorang adalah tujuan terakhirku,
aku selalu menjadi seseorang yang ditinggalkan?
Dan mengapa disaat aku yang dianggap sebagai tujuan terakhir seseorang,
aku selalu menjadi seseorang yang meninggalkan?
 
Read More

Rabu, 19 Maret 2014

Kemana semua ini akan bermuara?

Aku buta. Aku tak melihatmu. Aku terlalu sibuk dengan sisa-sisa perasaanku yang ku tak tahu kebenarannya. Tapi akhir-akhir ini, aku meninggikan sosokmu yang dulu ada disampingku. Aku kembali menikmati pesonamu. Ya, kamu. Kamu yang selalu kuabaikan kala itu. Kamu yang kuanggap manusia paling sempurna itu.

Kali ini, aku menginginkanmu kembali. Tapi kemudian aku berpikir, untuk apa kembali jika nantinya kita harus terpisah? Yang ku tahu, kau pernah berkata bahwa kau akan selalu ada di sisiku. Maka kuabaikan perasaanku yang kembali tumbuh itu, dan menganggap aku tidak memerlukan ikatan apa-apa.

Aku menginginkan mataku buta, agar aku tak melihatmu. Aku tidak ingin mengetahui hal itu disaat-saat seperti ini. Aku tidak ingin menginginkanmu kembali disaat kau tak menginginkanku. Sayangnya semua terlalu nyata dan aku harus menerima apa yang ku dengar dan apa yang ku lihat. Semua yang pernah ada diantara kita berkumpul memenuhi setiap sudut otakku dan aku menyesali perbuatanku; meninggalkanmu-untuk sesuatu yang semu-disaat aku tahu kau selalu ada untukku.

Aku...kecewa. Meskipun seharusnya tidak. Mengapa aku tidak ingin melihatmu bahagia, sedangkan aku adalah orang yang dulu menghancurkan kebahagiaanmu? Ternyata, aku menyanyangimu. Ya, aku baru menyadari bahwa aku menyanyangimu disaat yang tidak tepat. Perasaan itu datang terlambat. Aku bodoh dan tak tahu malu. Aku tahu ini salah. Terlalu salah untuk dibenarkan. Aku sudah terlanjur menganggapmu milikku (yang sebenarnya bukan) dan tak ingin kau dimiliki orang lain. Aku sudah terlalu egois.

Kita saling menyimpan perasaan yang sama, tapi waktu tidak menginkan kita untuk kembali. Right person, wrong timing. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan dengan perasaan yang terlanjur ada ini. Andai saja perasaan ini datang sedikit lebih cepat, mungkin semua akan menjadi tepat.

Diantara perasaan yang terabaikan, aku salah satunya.
Diantara segala kemungkinan, apakah aku pernah ada?
Kembalilah.
 XIV



Read More

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena