Aku buta. Aku tak melihatmu. Aku terlalu sibuk dengan sisa-sisa perasaanku yang ku tak tahu kebenarannya. Tapi akhir-akhir ini, aku meninggikan sosokmu yang dulu ada disampingku. Aku kembali menikmati pesonamu. Ya, kamu. Kamu yang selalu kuabaikan kala itu. Kamu yang kuanggap manusia paling sempurna itu.
Kali ini, aku menginginkanmu kembali. Tapi kemudian aku berpikir, untuk apa kembali jika nantinya kita harus terpisah? Yang ku tahu, kau pernah berkata bahwa kau akan selalu ada di sisiku. Maka kuabaikan perasaanku yang kembali tumbuh itu, dan menganggap aku tidak memerlukan ikatan apa-apa.
Aku menginginkan mataku buta, agar aku tak melihatmu. Aku tidak ingin mengetahui hal itu disaat-saat seperti ini. Aku tidak ingin menginginkanmu kembali disaat kau tak menginginkanku. Sayangnya semua terlalu nyata dan aku harus menerima apa yang ku dengar dan apa yang ku lihat. Semua yang pernah ada diantara kita berkumpul memenuhi setiap sudut otakku dan aku menyesali perbuatanku; meninggalkanmu-untuk sesuatu yang semu-disaat aku tahu kau selalu ada untukku.
Aku...kecewa. Meskipun seharusnya tidak. Mengapa aku tidak ingin melihatmu bahagia, sedangkan aku adalah orang yang dulu menghancurkan kebahagiaanmu? Ternyata, aku menyanyangimu. Ya, aku baru menyadari bahwa aku menyanyangimu disaat yang tidak tepat. Perasaan itu datang terlambat. Aku bodoh dan tak tahu malu. Aku tahu ini salah. Terlalu salah untuk dibenarkan. Aku sudah terlanjur menganggapmu milikku (yang sebenarnya bukan) dan tak ingin kau dimiliki orang lain. Aku sudah terlalu egois.
Kita saling menyimpan perasaan yang sama, tapi waktu tidak menginkan kita untuk kembali. Right person, wrong timing. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan dengan perasaan yang terlanjur ada ini. Andai saja perasaan ini datang sedikit lebih cepat, mungkin semua akan menjadi tepat.
Diantara perasaan yang terabaikan, aku salah satunya.
Diantara segala kemungkinan, apakah aku pernah ada?
Kembalilah.
XIV

0 komentar:
Posting Komentar