HAPPY ANNIVERSARY!
Happy anniversary! Maaf aku baru mengucapkan selamat hari ini. Seharusnya, aku mengucapkan hal itu 2hari yang lalu pada tanggal 4 Agustus. Tapi, ya kau tahu pada tanggal itu aku sedang tidak di rumah karena sedang mengikuti satu kegiatan yang tidak diperbolehkan peserta membawa alat-alat teknologi dan komunikasi kecuali handphone. Aku juga tidak mengucapkannya lewat sms ataupun telepon karena alasannya simple. Aku tidak ingin mengganggumu karena 'happy anniversary' tidak ada artinya lagi bagimu karena kita berdua sudah lama memisahkan diri. Besar kemungkinan kalau kau lupa dengan hari dimana aku dan kau memutuskan untuk bersatu dan menjadi kita.
Masih jelas dalam ingatanku saat malam itu kita bercakap-cakap lewat blackberry messenger sampai tengah malam bahkan lewat tengah malam. Sayang, aku melupakan pukul berapa percakapan kita berakhir. Yang aku ingat, percakapan kita berakhir dengan kebahagiaan. Berakhir dengan cinta dan kasih sayang yang ternyata sudah lama bersarang di hati kau dan aku. Malam itu...aku dan kau memutuskan untuk bersatu dan menjadi kita. Malam yang kini berada dalam daftar kenangan tersulit dilupakan. Malam itu, Minggu 04 September 2011...
Belum lama kebahagiaan itu aku miliki, kau sudah merebutnya lagi. Hari itu. Hari dimana kamu memutuskan untuk memisahkan diri dariku. Hari yang tak bisa kulupakan setiap detik kejadiannya. Hari itu juga, kini masuk dalam daftar kenangan tersulit dilupakan karena hari itu...aku bisa merasakan sakitnya kehilangan yang sudah lama tak kurasakan.
Sebulan saja kita merayakan hari bersatunya cinta kita berdua. Dan bulan-bulan selanjutnya, aku dan kau merayakannya sendiri-sendiri. Mungkin lebih tepatnya, hanya aku saja yang merayakannya karena kenyataannya kau tak pernah perduli dengan hari bersatunya cintamu dan cintaku---cinta kita.
Sudah 10 bulan aku dan kau memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Tak kusangka, ternyata cinta dan hati ini masih milikmu. Awalnya kupikir aku sudah melupakan dirimu. Tapi ternyata aku salah. Disaat sepi datang menghampiriku, yang ada di pikiranku hanyalah dirimu. Entah mengapa aku masih mencintai dan menunggu hadirmu. Aku tak tahu, apakah kau masih punya rasa yang sama terhadapku, atau perasaan yang aku rasakan ini hanya ada pada diriku.
Aku tahu dan aku mengerti, sangat-sangat mengerti mengapa waktu itu kita harus berpisah. Mengapa waktu itu kau memilih untuk berpisah denganku disaat ku mulai membuka hatiku untuk dirimu karena semua orang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Berbeda. Ya, itulah satu-satunya alasan mengapa kau dan aku berpisah. Kau dan aku berpisah dan kita berdua takkan pernah menjadi satu karena kita berdua berbeda. Sebesar apapun perjuangan kita untuk menyatukan perbedaan itu.
Hari itu, disaat kita resmi memisahkan diri dari cinta, seketika jantungku seolah gugur. Meninggalkan tubuh tanpa detak dan membiarkan aku mati sesaat. Aku lemah. Sangat lemah. Kekuatanku untuk berbicara bagai dirampas. Kenyataan ini sepahit kopi tanpa gula. Kini kepergiannya membawa luka-luka di hati yang menganga hebat dan bersimbah darah. Tak kusangka kau telah memporak-porandakan cinta yang kita bangun beberapa bulan yang lalu. Sekuat tenaga aku berusaha menata hati ini yang kacau-balau karenamu. Harapan yang selama ini ku pegang erat, kini satu per satu berguguran. Hatiku melepuh. Berdarah. Dan aku merana.
Aku sadar, kenyataan ini tak sepantasnya mendapat penjelasan lagi. Setelah hari itu, saat aku melihat dan menatap wajahmu, bekas-bekas luka itu kembali menganga dan air mata berderai tanpa henti. Ini pahit! Satu per satu potongan episode bersamamu bergulir-gulir dalam kepalaku. Di mana setiap potongannya meninggalkan nganga luka panjang, berdarah, membuat dada nyeri dan sesak. Potongan itu begitu saja menghampiri ruang ingatan tanpa mampu aku hentikan. Semua terlalu indah untuk kulupakan dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak melupakanmu melainkan mencoba merelakanmu.
Andai saja kau tahu, aku akan berusaha mempertahankan hatiku tetap pada posisinya. Seperti dulu, saat kita memutuskan untuk bersatu.
HAPPY ANNIVERSARY, SAYANG! Meski aku tahu cinta tak pernah berjalan mulus, tak pernah berjalan sesuai keinginan kita. Aku tahu, takut kehilanganmu itu sia-sia karena saat ini aku sudah kehilanganmu, bahkan sudah sejak lama aku hidup tanpa cintamu. Tapi setidaknya, dengan memberi sesuatu, itu bisa menunjukkan kalau kita pernah melewati masa-masa indah. Masa-masa yang menggembirakan. Masa-masa yang memberi warna dalam hidup kita masing-masing. Terima kasih sayang untuk 1 bulan yang kita gunakan untuk merangkai cintaku, cintamu dan cinta kita. Dan terima kasih sayang untuk 10 bulan yang kita-mungkin aku-gunakan untuk menata kembali cinta dan hatiku yang sempat hancur karenamu.
Aku sadar, sepertinya aku bukan potongan hatimu. Kubiarkan waktu yang akan memperbaiki semuanya. Sesakit dan seberat apapun masalah itu, aku berusaha untuk tetap berpikir jernih. Kini aku sadar, hatimu sudah tidak kumiliki lagi dan akan kubiarkan kau memilih cinta yang akan menghuni rumah hatimu...karena cinta tak pernah mengenal paksaan.
Sekali lagi aku ingin mengatakan happy anniversary, sayang! Aku rindu padamu. Tidak bisakah kau mengirimiku satu pesan saja yang mengatakan kalau kau merindukanku? Walau ku tahu...itu takkan pernah kau lakukan. Tapi apa salahnya berharap? Karena mungkin...itu adalah harapan terakhirku untukmu sebelum akhirnya, aku benar-benar merelakanmu pergi meninggalkan cinta dan hatiku.
HAPPY ANNIVERSARY, BINTANG DI BULAN SEPTEMBER! :*
Aku rindu kebahagiaan yang kau berikan kepadaku dulu.
Read More