Untold Feelings

Kamis, 28 Januari 2021

Ketika Membiarkan adalah Satu-satunya Cara

Ketika membiarkan adalah satu-satunya cara

Saat itulah perlahan tiada lagi rasa ragu


Dan jika tidak ditangani lebih cepat

Perasaan-perasaan berharga lainnya pun akan ikut hilang


Jurang itu sudah begitu jelas terlihat di pelupuk

Tapi aku tidak tahu apa yang aku mau

Yang aku tahu, kakiku tetap berjalan maju


Maukah kau merengkuh tubuh ini dan menyelamatkanku?



Read More

Jumat, 02 Oktober 2020

Acceptance.

"Jika kamu mencintai seseorang, kamu akan menerima kekurangannya. Tidak perlu mengoreksi, membantu memperbaiki, tapi cukup terima saja bahwa memiliki jalan pikiran yang berbeda adalah hal yang sangat manusiawi." Entah siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat itu, tapi setiap kali ada persilisihan, inilah yang selalu hadir di benakku.


Apa benar cinta itu tentang menerima?

Apa kita sanggup jika perbedaan itu sangat kontras?

Apa kita punya pilihan untuk mundur?


"Kita tidak pernah bisa, tidak pernah berhak untuk merubah orang lain." Kalimat ini juga sangat sering terdengar dan aku setuju. Beberapa waktu lalu, aku pernah dengan sombongnya dan penuh rasa percaya diri merasa mampu untuk membantu seseorang untuk menjadi lebih baik. Pada akhirnya, aku selalu berekspektasi terhadapnya. Layaknya guru yang mengajar, aku sangat antusias untuk melihat prosesnya. Sayangnya waktu itu hanya kekecewaanlah yang aku tuai. Aku tak sadar bahwa kita tidak pernah bisa merubah orang, jika orang tersebut tidak ingin merubah dirinya sama sekali. Saat itu aku merasa jalanku adalah yang paling benar, paling ideal, mungkin memang benar, mungkin memang ideal, tapi aku tidak punya kuasa untuk memaksa menanamkan mindset yang sama kepada orang itu. Sekarang, aku dihadapkan dengan masalah serupa. Terjadi pergumulan di dalam pikiranku.


Sebenarnya ini masalah yang sepele. Aku hanya kesepian dan aku menunggu sedikit terlalu lama. Sambil menunggu, aku bekerja dengan penuh semangat, merapihkan kamar, berolahraga, apapun aku lakukan agar aku tidak merasa menunggu terlalu lama. Aku terlanjur berekspektasi bahwa kamu akan kembali, aku terlanjur membayangkan kita bercerita tentang hari itu sebelum tidur sambil mendekap satu sama lain. Memang, kita selalu berada di bawah atap yang sama, tapi entah kenapa, aku selalu merindukan saat-saat kita berbagi tentang banyak hal, bercerita hingga tidak sadar ternyata matahari sudah terbit. Apakah sebenarnya kita membutuhkan jarak? Entahlah.


Akhirnya aku sampai di sesi terakhir stress-relief yoga-ku saat itu, inhale, exhale... Tiba-tiba masuk sebuah pesan singkat, "Aku tidur di rumah saja, tidak apa-apa kan?". Aku baru saja meredamkan rasa khawatir dan stress yang ada di kepalaku, baru saja merasa yakin bahwa yoga malam itu membantuku untuk merasa lebih rileks, namun perasaanku berubah dengan drastis. Entah kenapa aku merasakan sedikit beban di hatiku, rasa sesak di dada terasa sedikit lebih intens. "Tidak apa-apa", jawabku. Bukan, ini bukan seperti yang sering dikatakan orang-orang, aku bukan menyembunyikan perasaanku atau menuntutnya untuk lebih peka atau bahkan memaksanya untuk menebak-nebak. Aku menjawab pertanyaannya dengan jujur dan tanpa ragu, ya memang tidak apa-apa jika malam ini aku harus tidur sendiri. Hanya saja, rasa excited yang tadi aku rasakan hilang begitu saja. Aku merasa sia-sia menunggunya. Untung saja malam itu aku tidak menyiapkan masakan apapun, jika iya, aku bisa lebih kecewa dari ini. Tanpa sadar, aku membalas pesan singkat itu dengan air mata yang menetes sedikit dari pipi kemudian jatuh ke matras yogaku. 


Tidak lama kemudian, masuk sebuah panggilan video darinya. Terlihat raut wajahnya yang lelah dan setengah mabuk. Aku benar-benar hafal gelagatnya jika sedang setengah sadar, cara bicaranya, tatapan matanya. Terkadang ada rasa sesal ketika melihatnya seperti itu. You should have been better than this. Aku tidak ingin bercerita terlalu banyak, hatiku sudah kalut, aku bahkan merasa tidak peduli dengan apa yang ia bicarakan saat itu. "Istirahatl kalau memang sudah lelah, oke?", aku menutup teleponku. Obrolan itu berlangsung sangat sebentar dan berlalu begitu saja. "It's okay to be alone, you don't need others to be happy. You can be happy with yourself, you got more time to work, you can do so many things when you are alone. Harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, oke?", aku mencoba meyakinkan diriku, menarik nafas dalam-dalam, merapihkan matras yogaku, dan segera mandi air hangat agar sedikit lebih tenang. Aku lanjutkan dengan bekerja, bermain gim, menonton banyak video, hingga aku tidak sadar, sudah pukul 5 pagi. Belum juga ada pesan baru darinya. Aku memutuskan untuk tidur. 


Keesokan harinya, kejadian serupa terjadi lagi. "Aku pulang ke rumah dulu, setelah itu aku langsung kesana", begitu tulisnya. Aku begitu merindukannya, tidak sabar bertemu dan ingin mendekapnya erat, menceritakan hariku, menanyakan apa saja yang dia lakukan kemarin dan hari ini. Aku menunggunya lagi. Aku mencoba mencari-cari kegiatan dan melukis menjadi pilihanku saat itu. Tidak terasa, sudah 1 jam aku lewati, lukisanku hampir selesai. Otakku secara otomatis menghitung durasi perjalanannya, dari kantor ke rumah orang tuanya, lalu kesini. Seharusnya dia sudah sampai. Itulah ekspektasiku. "Sebentar ya, aku kesana jam 7", katanya. Ada sedikit rasa kecewa, tapi aku mencoba menelannya saja. Lagi dan lagi, dia membuatku menunggu, menunggu tanpa kejelasan, merubah-rubah keputusannya lagi, tidak menepati perkataannya, tidak menjelaskan apa yang terjadi. Aku tidak senang menunggu tanpa kejelasan, setidaknya kabari aku jika memang kamu harus melakukan hal lain dulu, setidaknya bilang jika kamu ingin istirahat sebentar, aku akan mengerti, dengan senang hati. Aku sudah cukup menunggu terlalu lama sejak kemarin.


Ketika ia sampai, aku menatapnya datar. Aku mencoba untuk tidak mempersalahkan hal ini, aku terlalu lelah untuk ini. Tapi selalu teringat dalam kepalaku, "Kalau ada apa-apa, bilang ya, cerita. Jangan dipendam sendiri, jangan overthink". Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan itu, sayangnya dengan cara yang salah.

"Kenapa sih kamu nyebelin? Gak pernah jelas?"

"Kemarin kamu bilang mau pulang kesini, ternyata gak jadi. Kamu juga gak bilang kenapa, aku udah terlanjur nungguin. Tadi juga sama, kamu tiba-tiba bilang kesini jam 7, sebelumnya kamu bilang langsung kesini. Kenapa gak jelas?"

"Ya aku tadi harus bla bla bla bla... kemarin juga kan karena aku capek dan terlanjur mager karena bla bla bla bla"

"Kamu bilang dong dari awal, kamu harusnya bisa ngebayangin kalo emang gak bisa, kasih tahu aku, jangan ngomong dulu terus ternyata gajadi! Kamu tahu lah pasti rasanya nungguin sesuatu tapi gak jelas!", aku bicara dengan nada agak tinggi dan hampir terisak.

"Kan waktu itu juga udah pernah, kamu bilang jam 10 mau pulang, ternyata gak jadi pulang karena terlalu mabuk. Ya kalau emang mau minum, kamu perhitungkanlah gimana caranya kamu bisa tetap pulang dengan aman. Kamu harus bisa kontrol diri kamu", aku melanjutkan omonganku

Tidak ada balasan darinya, ia hanya terdiam sangat lama, hanya terdengar helaan nafasnya saja, bahkan menatapku saja tidak. Perasaanku mulai tidak enak, apa aku salah bicara?

"Kenapa? Menurut kamu gimana?", aku bertanya mencoba untuk sedikit lebih tenang

"Ya aku bingung, aku bingung harus gimana!", ia menjawab dengan sedikit emosi, dahinya sedikit mengkerut. Aku bisa merasakan ada kekesalan yang ditahan.

"Apa yang kamu bingungin?"

Ia kembali terdiam cukup lama sehingga membuatku berpikir dan sedikit introspeksi diri. Aku teringat perkataannya beberapa waktu lalu, "Aku gak bisa kayak kamu, aku gak bisa terlalu teratur, jam segini harus lakuin ini, seharian mau ngapain aja, jam berapa, mau pulang kapan, mau pergi jam berapa. Aku orangnya gak kayak kamu". Dalam hati aku merasa tersadarkan, ternyata aku sedang mempermasalahkan sikap yang tidak bisa dia ubah, bahkan mungkin tidak ingin dia ubah.

"Kalau emang karena kamu gak bisa atur waktu kamu, kamu gak bisa kotak-kotakkan rencana kamu, gak bisa bikin planning buat apa yang kamu lakuin, gapapa. Aku minta maaf aku terlalu maksain kamu untuk jadi seperti aku. Aku yang keterlaluan. Maaf ya sayang, maafin aku ya...", suaraku bergetar, terasa air mata jatuh dr kedua mataku.

"Aku emang gak kayak kamu. Aku emang gak bisa teratur kayak gitu. Aku lakuin apapun ya tergantung situasi dan kondisinya aja. Ya jalanin aja gitu, gak perlu dibatas-batasin"

"Iya, makanya aku minta maaf, maaf aku terlalu keras sama kamu. Terima kasih ya...", aku mencoba menurunkan egoku. Mungkin aku memang terlalu keras dan terlalu berharap, terlalu berekspektasi, menginginkan dia berubah dan memaksakan dia untuk menerapkan jalan pikiranku dalam kehidupannya. "Kalau memang kamu kesulitan, berarti aku yang harus menyesuaikan", hanya itu yang bisa aku katakan.

Aku adalah orang yang cukup menghargai waktu dan seringkali merencanakan segala sesuatu dengan matang, terlebih soal waktu. Aku tidak pernah ingin terlambat, tidak pernah ingin membuat orang lain menunggu. Aku merasa aku tidak rugi dan tidak kesulitan jika melakukan semuanya tepat waktu jika aku memang punya kemampuan untuk menyanggupi itu. I do what I planned, I do what I said, tidak selalu, tapi most of the time. Aku menjadi seperti ini karena hidup yang aku jalani, aku sekolah sesuai jadwal, aku selalu patuh dengan peraturan, aku bekerja dengan jam kerja yang begitu fleksibel sehingga aku harus menata waktuku sedemikian rupa. Sedangkan ia orang yang sangat senang kebebasan, tidak suka keterikatan, apalagi dengan waktu, tidak pernah merasakan dikejar-kejar waktu atau kehabisan waktu, segalanya dibawa santai tanpa beban. Dia juga menjadi seperti ini karena memang hidupnya membentuknya seperti ini. Sangat kontras, sangat bertolak belakang. Jadi, siapa yang salah? Tidak ada. Kami hanya punya pilihan dan cara kita masing-masing.


Pendirianku agak sedikit goyah, aku merasa ada ketidakcocokan disini, aku sedikit struggling untuk menerima kebiasannya itu karena aku rasa tidak sulit untuk mengatur waktu jika kita terbiasa, jika kita menghargai waktu, jika kita menghargai orang. Kita tidak butuh uang untuk melakukannya kan? Terbersit sedikit di dalam pikiranku, apa ini tanda bahwa kita harus berpisah? Ini jelas hal yang sangat bertolak belakang, apa aku mampu menerima bagian dari dirinya yang seperti ini? Akankah hal ini mempengaruhi masa depan kami? Apakah aku akan tetap bahagia dan bisa menerima jika 30 tahun kelak dia melakukan hal yang sama? Jika ia tidak bisa menepati janjinya kepada anaknya dan menghadirkan rasa kecewa, bagaimana? Apakah aku bisa menahan diri untuk tidak mencari sosok lain ketika ia tidak bisa menemani? Lalu aku bertanya kepada diriku lagi, "APAKAH AKU MASIH INGIN MEMPERJUANGKAN HUBUNGAN INI DAN MENERIMA SIKAPNYA YANG SATU INI?", aku belum bisa menjawabnya, aku belum yakin, tapi aku memilih untuk menjalaninya dulu, lagipula aku juga mencintai banyak hal lain dari dirinya.


Apa benar cinta itu tentang menerima? Ya, dan itu sangat tidak mudah, butuh waktu dan rasa yakin.

Apa kita sanggup jika perbedaan itu sangat kontras? Tidak ada yang tahu.

Apa kita punya pilihan untuk mundur? Selalu ada pilihan, jangan khawatir.


Jakarta, 2 - 10 - 2020

Read More

Selasa, 30 Juni 2020

Inilah Akhirnya

Ketika semua mengatakan jangan, aku tetap melangkah maju. Tak pernah kusesali itu, sungguh. Aku bahagia pernah mengenalmu dan menjadikanmu seseorang yang berharga untukku.

Kini kau telah menemukan jalanmu kembali. Aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah ada ketika aku terjatuh. Terima kasih sudah datang dan memberi kesempatan untukku merasakan cinta yang selama ini aku harapkan. Kini aku sadar, ternyata bukan cinta seperti itu yang aku inginkan.

Cerita kita hanya sampai disini. Aku tau itu sejak lama, hanya saja aku tak ingin mengakuinya karena aku terlalu egois untuk melepasmu. Maafkan aku yang memaksakan keinginan untuk bersamamu, memaksakan hubungan yang sudah seharusnya diakhiri. Maafkan aku.


Setelah semua yang terjadi, kini aku paham.
Sejak awal, tak pernah ada kata kita.
Yang ada hanya aku dan kamu yang saling membantu menghapus luka lama.
Read More

Rabu, 14 Maret 2018

You’re Happy Now With Someone New

I know you’re completely happy with the people that surround you right now. There is no place you’d rather be than where you are currently. And I’m glad that you’re slowly finding your happiness. I hope you are proud of the person that you are becoming. I hope you already have everything that you need in life right now.

I understand that someone has already replaced me in your heart. You have found someone new, someone who’s better than me, someone who’s lucky to call you as their own. And that’s totally fine with me.

I want you to know that I’m glad you’re moving on. I hope someone’s taking good care of you now, providing you more happiness, and securing you a future that I couldn’t give to you.

But it is what it is — someone has already won you over.
The best thing that I can do for myself is to turn around and walk in the other direction. I need to slowly, but surely, wipe my special feelings towards you. It’s pointless to pressure myself over the thought that you’re in what seems like an amazing relationship — and I’m not. 

My heart is at peace now than it has ever been, and I promise to myself to hold on to this feeling. I promise to myself to move on, and finally let you go. 


-Angelo Caerlang
Read More

Senin, 12 Maret 2018

You turned me into a better person, then into someone I was no longer able to recognize. Yet, I've now somehow found myself better off, I'm stronger, I'm wiser. So thank you for all that.

Now I know, its all about caring. I will always care for you. I'm happy that I care for you as much as I do. This isn't to say that you didn't love me, because I know you did. Yet, here we are; I'm sitting here and you're somewhere else. Without me, doing your own thing, being the awesome person you've always been. 


You're happy now and I want you to stay happy. This letter is to remind me that the choices I've made, the path I've walked and continue to walk, is the path I was meant to walk down.
Read More

Kamis, 10 Maret 2016

Bertahan

Setiap hari kulalui
Hanya untuk menanti
Menantimu kembali untuk mendekap tubuh ini

Setiap jam kulalui
Hanya untuk memandangi
Memandangi jarum jam yang terus berjalan dan tak berhenti

Setiap menit dan detik dari hidupku kubuang
Hanya untuk menunggu, menunggu, dan menunggu

Kamu telah dijerat oleh kesibukanmu
Sulit bagiku untuk merengkuhmu
Untuk merasakan kehadiranmu

Kamu selalu ada tapi tidak terasa ada
Bersama tapi tidak terasa bersama
Waktu pun terbuang sia-sia

Aku bisa mengerti keadaanmu
Aku bisa memberi waktu untukmu
Tapi cobalah mengerti diriku
Tolong jangan sia-siakan waktu

Sayang, semoga aku bisa bertahan sedikit lebih lama
Bandung, 10 Maret 2016

Read More

Rabu, 04 Maret 2015

Lalu, kamu datang.

Awalnya biasa saja. Iya, biasa saja.
Aku menyadari itu bukan apa-apa.
Kemudian, semuanya terasa berbeda.
Aku merasa ada sesuatu diantara kita.
Maaf jika aku memaknainya secara berbeda.

Lalu pertanyaan, kenapa harus aku?
Read More

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena