Sayang, apa kabar kau? Apa kau baik-baik saja? Apa kau masih tidur larut malam dan bangun saat adzan subuh berkumandang? Maafkan aku sayang. Beberapa bulan belakangan ini aku melupakan kau. Aku menyisihkan kau dari ingatan dan hatiku.
Sayang, aku masih sama seperti dulu. Masih sering tidur larut malam dan bangun telat. Aku masih sama seperti dulu, masih sering makan mie instan. Aku masih sama seperti dulu, makan makanan pedas sampai menangis. Aku masih sama seperti dulu, merindukan kau.
Sayang, aku rindu. Aku rindu tersenyum saat membaca pesan singkatmu saat aku membuka mata. Aku rindu melihat ekspresi gemas, ekspresi bahagia, ekspresi marah dan ekspresi cemburu yang susah payah kau sembunyikan tapi bisa aku lihat dengan jelas. Aku rindu berbincang-bincang denganmu. Rindu berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersamamu. Rindu dengan gombalan-gombalanmu. Rindu dengan janjimu. Dan rindu dengan suaramu.
Sayang, begitu banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu. Tentang aku yang sekarang sudah beranjak dewasa, tentang aku yang bingung memilih jurusan apa saat aku akan lulus nanti, tentang aku yang menjadi panitia di kegiatan rohis, tentang aku yang tak bisa tidur semalaman walaupun sudah aku paksakan untuk tidur dan tentang dia yang kini berada di posisimu dulu. Aku ingin menceritakan semuanya, segalanya. Aku ingin menceritakan apa yang kini tidak bisa kau lihat.
Sayang, entah apa kau membaca setiap tulisan yang aku tulis untukmu atau tidak. Entah apa kau merasa tulisan-tulisan ini untukmu atau bukan. Yang pasti, setiap aku menulis, aku selalu teringat kau, berharap kau membacanya dan berharap ada balasan rindu untukku.
Read More