Minggu, 16 Juni 2013

Kita Bukan Mereka

Aku tak tahu bagaimana menghadapi kenyataan ini. Ternyata mencintaimu begitu sulit. Banyak rintangan yang harus bisa aku lewati tanpa melukai hubungan kita. Aku tak menyangka hubungan kita akan serumit ini. Soal matematika yang paling rumit pun masih bisa aku selesaikan...

Satu jam otakku bekerja. Memutar kembali rekaman kenangan yang kita ciptakan dulu. Sempat terbesit di pikiranku untuk meninggalkam kamu agar kamu bahagia. Tapi setelah aku pikir-pikir kembali, bahagiamu ada padaku dan kamu akan bahagia bila ada aku disampingmu.

Lalu ku kuatkan hatiku untuk mencintaimu. Ku eratkan genggamanku untuk menggenggam hatimu. Takkan kubiarkan kamu menjauh dan takkan kubiarkan mereka memisahkan kamu dari pelukanku. Karena hubungan ini dibangun oleh kita, dijalani oleh kita dan akan diakhiri oleh kita  juga.

Read More

Kamis, 13 Juni 2013

Kemarin kamu terasa begitu nyata. Duduk disampingku, menggenggam erat tanganku dan menceritakan banyak kisah yang belum pernah aku dengar sebelumnya dan bersamamu aku bisa tertawa melupakan apa yang sedang terjadi.

Lalu hari ini kamu hilang. Hari ini kamu menjadi sesuatu yang tak terjangkau pandanganku. Hari ini aku tak dapat menggenggam tanganmu seperti kemarin. Hari ini kamu jauh...jauh dariku.

Aku tak mencari tahu keberadaanmu hari ini. Aku membiarkan kamu terbang bebas menjelajahi setiap sudut kota ini bersama teman-temanmu. Aku tak ingin mengganggu waktu bahagiamu bersama mereka. Aku tak ingin menjadikanmu tahanan dalam hubungan ini. Aku hanya ingin membuatmu merasakan kebebasan karena aku tak ingin membuatmu bosan.

Dan hey...
Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang bersenang-senang?
Aku rindu kamu. Aku rindu percakapan kita. Entah apa yang harus aku lakukan. Yang aku tahu, aku sedang menunggu kamu; menunggu kamu menyapaku...



Kabari aku jika kamu sudah selesai dengan teman-temanmu karena aku disini; menunggumu untuk menyapaku.
Read More

Minggu, 09 Juni 2013

Untuk Kamu yang (Masih) Aku Rindukan

Hari ini, kamu hadir diotakku (lagi). Saat ini, kamu sedang menari dan bernyanyi dipikiranku (lagi). Sekarang, kamu sedang membisikkan janji-janji yang pernah kamu ucapkan padaku dulu. Dan kehadiranmu dipikiranku (lagi-lagi) tak bisa aku tolak.

Kedatanganmu dipikiranku disambut dengan senyum di wajahku. Walaupun kehadiranmu membangkitkan luka lama, tapi entah mengapa aku masih bisa tersenyum membayangkan kamu sedang menari-nari dipikiranku. Ternyata, dengan luka yang kamu torehkan dihatiku dulu masih bisa membuat aku tersenyum tulus padamu.

Kamu tahu? Kamu masih berada disana; disudut hatiku. Entah sudah berapa banyak cara yang aku lakukan untuk mengusir kamu dari hatiku tapi aku selalu gagal. Dan entah apa yang terjadi padaku sehingga aku masih saja mau mengizinkan pikiranku diisi olehmu. Entah aku bodoh atau polos, aku masih saja tersenyum saat memikirkan kamu. Aku tak pernah menolak kehadiranmu dipikiranku bahkan aku selalu larut dalam kenangan masa lalu saat aku mengingat kamu.




Dengan semua luka yang kamu beri padaku, aku masih mau merindukan kamu; merindukan kamu yang seharusnya tidak boleh aku rindukan.
Read More

Kamis, 06 Juni 2013

Aku Terbiasa dengan Kamu yang Dulu

Yang aku tahu, kamu adalah seseorang yang sama dengan seseorang yang dulu pernah meninggalkanku. Kamu tak pernah menunjukkan kalau kamu sedang marah. Kamu selalu mengutamakan aku. Sosok seperti itulah yang aku cintai. Sosok seperti itulah yang aku idam-idamkan. Sosok seperti itulah yang aku banggakan.

Hari ini, aku mengenal kamu bukan lagi seperti kamu yang dulu. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kamu berubah. Akhir-akhir ini, kamu lebih sering menunjukkan ekspresi marahmu ketimbang ekspresi bahagiamu. Kamu lebih sering hidup di duniamu dan lebih sering mementingkan dirimu dibanding aku. Dan mau tak mau, terima tak terima, sosok seperti itulah yang aku benci. Sosok seperti itulah yang aku jauhi.

Mungkin kamu merasa aku egois. Tapi inilah aku. Aku terbiasa berbagi kebahagiaan dengan kamu yang dulu bukan kamu yang sekarang. Aku terbiasa hidup dengan ekspresi bahagiamu bukan dengan ekspresi marahmu. Aku tak pernah menyangka kamu bisa berubah seperti ini. Aku tak menyangka kamu berjalan ke arah yang salah. Apa aku terlalu sibuk dengan diriku hingga aku tak menyadari kamu tak lagi menjadi kamu yang dulu?

Aku tahu kamu masih mencintaiku. Tapi bukan itu yang aku inginkan saat ini. Yang aku inginkan, kamu kembali menjadi kamu yang dulu karena aku tak terbiasa hidup dan bebagi kebahagiaan dengan kamu yang sekarang...
Read More

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena