Ada yang sempat memberi rasa, juga sedikit harapan kepada seseorang yang diam-diam memiliki perasaan padanya. Tapi, rasa yang diberi olehnya belum jelas kenyataannya, hanya samar-samar.
Ketika semua tanda yang diberikan nyaris pasti, yang tersisa hanyalah keberanian hati untuk mengeksekusi, sayangnya dia masih meminta waktu untuk menunggunya.
Mungkin tak ada aku di dasar hatimu. Tak pernah ada. Mungkin hal itu yang membuatmu sulit untuk memulai.
Kau memintaku untuk bersabar, meskipun aku tak tahu bersabar untuk apa yang kau maksud. Sampai detik ini pun aku masih menanam harapan jauh di dalam hatiku untuk menantimu, meskipun ada beberapa hal yang membuat kesabaranku perlahan ingin aku abaikan.
Sepertinya, kau telah jatuh cinta kepada seseorang yang bukan aku. Semua perasaan yang selama ini kita simpan tak ada lagi di tempat yang seharusnya. Mungkin telah diabaikan… dan dilupakan.
Kata demi kata yang pernah ada diantara kita secara langsung dan diam-diam seperti menggambarkan sebuah kemungkinan untuk bersama, mengadakan penantian yang kemudian tak seharusnya dinanti. Karena yang dinanti sekarang telah semu, nyaris lenyap, tak memberikan tanda jika akan datang atau tidak.
Sekarang, apa yang semu telah terwujud nyata.
Ternyata lenyap.
Dan kebahagiaan darimu tidak tertuju untukku.
Selamat tinggal, kamu.
Semoga bahagia.
