Sabtu, 26 Januari 2013

KITA

Kau dan aku berjalan menyusuri pesisir pantai di malam hari. Kau memegang tanganku erat dan aku bersandar di pundakmu. Kita berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak ada suara yang terdengar selain suara ombak yang menerjang karang. Tak ada yang dirasakan selain dinginnya malam. Kita berdua hanyut begitu dalam sehingga kita tak menyadari kini kita berdiri berhadapan dan saling memandang.

Cukup lama kita menciptakan keheningan. Membiarkan ombak memecah keheningan dan membiarkan dingin menelusup ke dalam kulit. Tiba-tiba...
"Kita... Akan seperti apa dalam 5 tahun? Bagaimana kita akan berubah dalam 10 tahun? Bagaimana hati kita akan berubah? Kau akan mengingat aku sebagai apa? Kapan aku akan mampu melepaskanmu? Apa aku akan pernah mampu?"

Kau bersaing dengan ombak memecah keheningan. Kau melontarkan pertanyaan itu begitu saja padaku. Aku terdiam dan kembali menatap matamu. Aku berpikir apa aku bisa menjawab semua pertanyaanmu. Dan tiba-tiba jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu keluar begitu saja...
"Dalam 5 tahun, kau akan menjadi seseorang yang dibutuhkan seseorang yang benar-benar membutuhkanmu. Pada saat itu, hari ini akan menjadi seperti foto lama. Kau bahkan tidak akan menyadari bahwa kau telah melepaskan aku. Suatu hari, kau hanya akan menyadari bahwa kau telah melepaskannya. Dan hari-hari setelah itu... Bagimu aku hanya akan menjadi sebuah fosil dari waktu yang lama."
Read More

Kamis, 24 Januari 2013

Awalnya kita teman. Lalu berubah menjadi sahabat. Lalu berubah menjadi cinta... Entah siapa yang memulai ini semua. Tanpa kau dan aku sadari, aku merindukanmu saat aku tak melihatmu. Tanpa kusadari, hatiku berdebar-debar saat kau melihatku. Tanpa kusadari, jantungku berdetak lebih cepat ketika kau menyentuhku tanpa sengaja. Semua mengalir begitu saja tanpa bisa aku cegah. Dan tanpa kusadari, aku larut dalam pesonamu...

Kau begitu gagah dengan penampilanmu. Pemikiranmu begitu dewasa. Apa pantas diriku menjadi seseorang yang kau banggakan dihadapan teman-temanmu? Aku hanyalah aku. Aku bahkan tak bisa mengendalikan diriku saat aku terbakar cemburu ketika melihat kau berjalan dan tertawa dengan wanita lain. Apa pantas aku bersaing dengan mereka yang lebih cantik, lebih pintar dan lebih dewasa untuk mendapat perhatian dan kasih sayangmu? Aku terlalu kekanak-kanakan untukmu dan aku takkan pernah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarmu.

Hati yang patah, kesedihan dan airmata. Tidak apa-apa jika akhirnya aku harus beranjak pergi meninggalkan kenangan yang indah dan bahagia yang sempat kau dan aku lalui bersama. Aku tak pernah berjanji padamu untuk mencintaimu sampai mati. Tapi aku berjanji padamu untuk menyimpan kenangan kita didalam hatiku selamanya sampai akhirnya aku benar-benar takkan bisa melihatmu lagi di dunia ini.

Senyummu menciptakan senyumku. Tawamu menciptakan tawaku. Sentuhanmu menciptakan rona merah di wajahku. Perhatianmu menciptakan harapan untukku. Satu yang harus kau tahu; yang kamu miliki bukanlah aku dan yang aku miliki bukanlah kamu. Yang kau dan aku miliki sekarang adalah kenangan yang takkan pernah mungkin hilang ditelan waktu...

Read More
Mengapa begitu sulit untuk aku melihatmu? Mengapa kau terasa begitu jauh? Tolong, jangan pergi ke tempat dimana aku tidak dapat melihatmu. Datanglah agar aku dapat melihatmu, menemuimu. Ijinkan aku untuk menyentuhmu...

Karena aku merindukanmu.
Read More

Selasa, 22 Januari 2013

Perasaanku hilang mengikuti langkahmu yang tlah lama menjauh. Hatiku beku saat merasakan dinginnya sikapmu kepadaku. Langkahku berat untuk menjejaki setiap jarak yang kau ciptakan di hadapan kau dan aku. Aku tak tahu mengapa aku begitu sulit dan bingung harus berbuat apa saat kita bertemu. Aku tak tahu harus tersenyum atau membuang muka saat kau melihatku. Aku tak tahu dan aku takkan pernah tahu apa yang harus aku lakukan saat kau (mungkin) menyapaku.


Read More

Selasa, 15 Januari 2013

Aku terlalu sibuk dengan perasaanku. Dengan hatiku. Aku tak pernah peduli dan tak mau peduli dengan hati dan perasaanmu. Aku juga tak mau ambil pusing dengan hati dan perasaan dia. Yang aku pikirkan saat ini adalah aku bahagia karena aku bisa memilihmu walau kenyataannya aku memang takkan bisa memilikimu.

Selasa, 15 Januari 2013 ; 13.21 
Read More
Selamat malam kamu yang aku rindukan...
Sedang apa kamu? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu memikirkanku? Apa kamu merindukanku? Apa kamu...mencintaiku?
Hahaha... Maaf aku melontarkan banyak pertanyaan untukmu.
Aku hanya ingin tahu seberapa peka kamu dengan perlakuanku...
Read More

Sabtu, 12 Januari 2013

13 Januari 2013 ; 00:00

Mungkin saat aku mengatakan aku menganggap kamu seseorang yang tak bisa luput dari pandanganku sedetik saja, kamu pasti tidak akan percaya...

Kamu takkan percaya jika aku mengatakan hal ini padamu. Jangankan kamu... Untuk meyakinkan diriku saja, aku membutuhkan waktu yang cukup lama. Tak kusangka aku mulai menyukaimu. Bukan hanya itu, aku mulai merindukanmu saat kita tak bertemu. Semua yang kurasakan padamu sekarang sama seperti apa yang kurasakan pada mereka dulu.

Memang sejak awal aku menempatkan kamu ditempat yang istimewa. Kamu selalu mendapatkan perhatianku. Kamu selalu punya beribu-ribu cara agar aku melihatmu. Tapi sayang, mataku tak pernah bisa melihat kamu yang sesungguhnya.

Beberapa hari lalu aku melihat kamu lagi. Kali ini aku benar-benar melihatmu walau kamu tak mencari perhatianku. Aku menerobos masuk kedalam pikiranmu. Mencari-cari sesuatu yang takkan mungkin aku temukan didalam pikiranmu. Aku mencari sesuatu yang aku sendiri yakin, kau tak pernah memikirkan hal itu. Aku terus mencari sampai kedasar pikiranmu hingga akhirnya aku sadar, rindu ini hanya milikku...

Lagi-lagi aku jatuh dilubang yang sama. Aku mencintai seseorang yang takkan mungkin menjadi milikku. Aku merindukan seseorang yang jelas-jelas merindukan orang lain. Seberapa besar nyaliku hingga dengan beraninya aku masuk ke dalam terowongan yang gelap dan tak berujung? Sebodoh apakah diriku ini hingga aku bisa terjerumus lagi dan lagi di lubang ini?

Aku tak mengerti. Apa salahku hingga aku lagi-lagi harus berurusan dengan masalah cinta yang tak pernah berakhir seperti ini? Mengapa aku tak pernah bisa mencintai seseorang yang sudah pasti bisa aku miliki? Mengapa aku tak bisa merindukan seseorang yang memang merindukan aku? Lagi dan lagi, pertanyaan yang takkan pernah bisa aku jawab.

Aku tahu cinta datang kepada siapa saja, cinta datang dimana saja dan kapan saja.
Tapi, haruskah aku mencintai dia walau aku dan dia hidup dalam perbedaan?
Read More

© Untold Feelings, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena