Aku bahagia karena mencintai kalian.
Dan aku terluka karena mencintai kalian, juga.
Sudah cukup lama aku terluka. Lalu mengapa kalian datang dan memperpanjang waktu untuk aku merasakan luka? Ternyata semuanya sama. Manis yang kudapatkan saat awal hubungan kita dan pahit yang kudapat di akhir hubungan kita.
Aku mencintai kalian karena aku ingin bahagia bukannya ingin menangis karena terluka oleh cinta kalian. Mengapa selalu saja luka yang kudapat disetiap hubungan yang ku jalin? Sebodoh itukah diriku hingga aku percaya dengan omongan kalian? Sepolos itukah diriku yang tak pernah menyadari kebohongan yang tersimpan dibalik ucapan kalian? Sebegitu terpesonanya aku saat menatap mata itu? Nyatanya, kalian menyembunyikan banyak kebohongan di balik mata itu.
Mengapa luka yang selalu aku dapatkan? Mengapa disaat ku benar-benar jatuh cinta, benar-benar merasakan cinta, luka yang selalu datang menghampiriku? Mengapa disaat aku sangat percaya dengan omongan kalian, sangat berharap hari-hari yang indah dari kalian, sangat percaya dengan semua imajinasi-imajinasi yang kalian ciptakan, kalian malah pergi menjauh. Pergi meninggalkanku yang bingung. Yang terluka. Yang hancur. Yang...yang...yang entahlah. Mengapa kalian melupakanku seakan-akan aku tak pernah ada di kehidupan kalian? Sekejam itukah kalian? Atau ini yang kalian inginkan? Ini yang kalian harapkan? Melihat aku terluka karena cinta yang kalian beri, melihat aku memohon-mohon pada kalian untuk kembali, melihat aku...jatuh.
Aku menyimpan semua kenangan yang kau, dia dan aku buat. Aku menyimpan semuanya. Aku sadar disaat aku merindukan kalian, aku tak mungkin mengirim kalian sebuah pesan singkat atau menelepon kalian untuk menghapus rindu yang selalu memaksa aku untuk mencari kalian. Aku hanya bisa melihat foto, membaca kembali pesan singkat dari kalian yang sempat kusimpan, dan mendengar rekaman suara kalian. Hanya itu yang bisa menghapus rinduku. Apalagi yang bisa kulakukan selain melihat dan mengingat kenangan kita dulu?
Aku sempat membaca kembali pesan singkat yang kalian kirimkan untukku. Kalian pernah bilang kepadaku, jika suatu saat nanti kita berpisah kita tak boleh saling membenci. Kita harus tetap saling menyayangi walau hanya sebatas teman. Kita tetap bisa bercakap-cakap walau tak bisa seperti dulu. Kita bisa melakukan hal yang sama seperti saat kita masih menjadi satu walau dalam keadaan yang berbeda; teman. Dan aku sempat membantah kalau kita bisa melakukan itu. Menurutku itu tidak mungkin jika kita masih akan berkomunikasi disaat kita berpisah. Karena selama perjalanan cintaku, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengan seseorang yang memilih untuk berpisah. Aku rasa itu hal yang aneh. Kalau memang masih ingin menjalin hubungan, lalu mengapa memilih untuk berpisah? Kalian selalu meyakinkanku kalau kita bisa. Kita bisa berkomunikasi walau kita sudah berpisah dan aku mencoba untuk yakin dengan perkataan itu dan aku mencoba melakukannya walau terkadang itu menyakitkan saat aku sadar saat ini kita berkomunikasi tapi hanya sebatas teman.
Tapi apa nyatanya? Sekuat tenaga aku mencoba untuk selalu berkomunikasi dengan kalian. Aku mencoba mengalahkan sakit hatiku saat aku berkomunikasi dengan kalian. Aku mencoba membuang jauh-jauh perasaan untuk kembali kepada kalian saat kita bicara. Aku mencoba untuk menganggap kalian sebagai teman. Tapi andai kalian tahu, sulit bagiku untuk membuang perasaan cintaku dan menggantikannya menjadi rasa sayang terhadap teman. Disaat aku mencoba tuk berkomunikasi dengan kalian, kalian malah pergi. Kalian menganggap aku tak ada. Kalian menganggap aku sebagai seorang gadis yang tidak kalian kenal. Kalian menganggap aku hanyalah seseorang yang mencoba tuk mencari perhatian. Kalian menganggap aku sebagai boneka yang bisa kalian mainkan.
Sebenarnya apa mau kalian? Mencoba tuk mempermainkanku? Mencoba tuk melukaiku? Mencoba tuk menyakitiku? Apa kalian kurang bahagia saat melihat aku terluka sangat dalam saat kalian mengatakan kalian sayang kepadaku dan takkan meninggalkanku lalu dalam hitungan jam kalian tiba-tiba menghilang. Kalian meningalkanku. Kalian melupakan semua yang kalian ucapkan kepadaku seakan-akan kalian tak pernah mengatakan apa-apa padaku. Sebenarnya apa salahku hingga dengan mudahnya kalian hancurkan aku?
I'm still just a stranger.
Kamis, 04 Oktober 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar