Entah bagaimana ku menyimpulkan perasaan ini. Aku terlalu mudah untuk memaafkan, terlalu mudah untuk dipengaruhi dan terlalu menggunakan perasaan. Langkah yang sudah kuambil sebelum kau masuk dalam kehidupanku lagi semata-mata untuk mengenyahkanmu dari ingatanku. Tapi itu sulit bagiku, kenangan kita yang tersimpan begitu berarti walau singkat. Segala sakit yang pernah kau beri selalu terabaikan oleh cinta yang begitu dalam di hati ini.
Aku telah mengambil satu tindakan untuk bisa melupakanmu karena pada saat itu yang aku tahu kita tak akan bisa kembali dan kau sudah melupakanku. Aku menyembuhkan lukaku dengan melibatkan orang lain, dengan penuh harapan bahwa dia bisa merebut hatiku yang telah kau curi. Namun harapan hanyalah sekedar harapan dan tidak mudah menjadi kenyataan. Kau datang padaku dengan membawa cinta itu lagi. Ku akui aku terlalu mudah untuk kau taklukkan dan aku terlalu lemah untuk memaafkanmu.
Tapi ada satu hal yang hampir kulupakan. Aku masih memiliki satu tanggung jawab. Ada seseorang yang membutuhkan hatiku seutuhnya. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya meskipun terkadang perasaanku menjadi korban. Aku tidak menyesal atas itu semua karena sudah sepantasnya aku mengorbankan perasaanku. Aku yang membiarkannya masuk di kehidupanku. Dia sudah mengisi kekosongan hari-hariku saat kau tak ada. Dia yang membuatku merasakan lagi cinta yang sempurna meskipun sulit bagiku untuk membalasnya. Tapi aku tak akan mungkin meninggalkan dia; dia yang menyembuhkan luka dihatiku. Tak akan mungkin aku meninggalkan dia untuk kembali padamu; kamu yang menyebabkan luka itu. Namun bagaimana caranya aku bisa memberikan hatiku yang utuh padanya jika kamu selalu merebut hatiku kembali? Tapi aku tak bisa menyalahkanmu karena aku yang tidak memiliki pendirian.
Aku bisa saja memilih salah satu dari kalian. Aku bisa saja mengabaikanmu dan mengubur dalam-dalam perasaanku. Tapi segala pengorbanan yang telah kau lakukan selama ini membuatku luluh. Meskipun kau pernah melakukan kesalahan, tapi apa yang kau korbankan sejauh ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau sungguh menyesali itu semua. Atau aku bisa saja meninggalkan dia untuk memanjakan perasaanku. Tapi aku tak sejahat itu meskipun aku tahu membohonginya bukan merupakan solusi dan aku belum siap melihatnya terluka. Sekali lagi, aku tak mau mengecewakannya.
Masalah tersiksanya perasaanku itu sudah sepantasnya aku dapatkan akibat kelalaian dan segala kebodohanku. Dan dengan tersiksanya perasaanmu, sungguh itu bukan karena aku ingin membalas sakit yang dulu pernah kau beri. Aku sungguh tidak sengaja. Aku tak pernah tahu bahwa ini akan terjadi. Kuharap kau bisa mengerti. Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Aku juga tak ingin mengecewakanmu.
Untuk saat ini, dia yang harus ku pertanggung jawabkan.
Rabu, 03 Oktober 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Be tough ya' :)
BalasHapus