Disaat aku mulai melupakan, dia hadir kembali di kehidupanku tanpa bisa aku tolak kehadirannya. Disaat ku mulai berharap bahkan sangat berharap dia akan kembali dan menjadi milikku seutuhnya, dia malah pergi dan meninggalkanku seolah-seolah tak terjadi apa-apa antara aku dan dia. Aku bingung dan aku tak mengerti apa yang dia pikirkan saat mendekatiku dan apa yang dia pikirkan saat menjauh dan menjaga jarak dariku. Apakah ini cinta yang ada dalam dirinya? Entahlah. Aku tak tahu walaupun aku sudah mencoba untuk mencari tahu.
Saat aku melupakannya, dia datang dan membawa semua kenangan yang telah aku tinggalkan di masa lalu. Membangkitkan segala kenangan yang telah ku kuburkan dalam-dalam dan memutar kembali apa yang sudah aku dan dia lakukan dulu. Perlahan-lahan aku mulai berharap padanya. Berharap akan cintanya akan menjadi cinta yang aku butuhkan saat ini. Berharap dia akan menjadi satu-satunya orang yang aku yakini benar-benar mencintaiku dan satu-satunya orang yang takkan mungkin menyakitiku dan meninggalkanku. Ketika harapan itu berkobar-kobar dalam diri ini, ketika dia menjadi satu-satunya orang yang aku tunggu-tunggu kehadirannya, dia malah berpaling. Dia malah memalingkan mukanya. Dia melupakan. Dia meninggalkan. Dia membuatku terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Setelah dia melupakanku (lagi), aku harus menjalani hari-hariku seperti biasa. Seolah setiap hari adalah sama. Tak pernah terjadi apa-apa.
Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Satu per satu berita datang menyapa telingaku dan semuanya tentang kamu. Kamu. Dan kamu! Tentang kamu yang pernah begitu aku kasihi yang kini meninggalkanku. Aku tidak tahu mengapa telingaku masih bersedia mendengar tentang kamu. Berita tentang kamu selalu membuat pedih di dalam hati. Tetapi entah mengapa, aku juga ingin terus mendengar berita tentangmu. Kau pikir apa yang sudah kau lakukan adalah benar? Kau meninggalkanku seolah-olah aku benda mati yang tak punya rasa apalagi hati!
Kau, orang yang selama ini kuyakini tidak akan menyakitiku, orang yang paling dekat denganku, berubah 180 derajat! Tapi, apa yang bisa kulakukan saat kau menyayat hati ini? Aku hanya bisa memaafkan dan merelakan karena seperti itulah cintaku kepadamu. Cinta yang selalu memaafkan karena ternyata aku tak pernah bisa membencimu. Selalu ada maaf untukmu, apapun yang pernah kau lakukan terhadapku.
With love, D.

0 komentar:
Posting Komentar