Maaf. Maafkan aku yang selalu menyindirmu dengan perkataanku. Aku tak bermaksud membuatmu berpikir apa yang aku katakan adalah benar seutuhnya. Terkadang perkataan yang terucap dari bibirku hanyalah sebuah candaan. Tapi sejujurnya, terkadang pula perkataan yang aku ucapkan adalah benar. Aku tahu bagaimana rasanya jadi kamu. Aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku tahu bagaimana bingungnya kamu saat kamu dihadapkan oleh dua pilihan dan kedua pilihan itu sangat penting untukmu; dia dan kami, sahabatmu. Kau tak pernah berubah dan takkan pernah berubah. Ketika kau mulai menjauh, kami akan segera menahan langkahmu dan mengingatkanmu. Ketika kau mulai melupakan, kami akan mengingatkanmu tentang kenangan yang kita ciptakan bersama. Kau tak pernah meninggalkan kami di belakang. Aku saja yang terlalu berpikir kamu mulai menjauh dan melangkah terlalu jauh. Aku mengerti kamu. Aku tahu kamu masih bingung untuk membagi waktumu dengan kami dan dia.
Tomcat! Aku tak pernah kesal ataupun kecewa padamu. Aku bangga karena kamu tidak melupakan aku dan yang lainnya ketika kamu sudah memiliki dia. Aku tak menyalahkan kamu saat kamu pergi dengannya dan melupakan aku dan tomcat yang satunya lagi. Aku tahu kau tak pernah bermaksud demikian. Aku mengerti kamu. Karena sejujurnya, aku juga pernah merasakan apa yang kini kau rasakan. Aku tahu bagaimana kebingunganmu saat kamu harus membagi waktu untuk dia dan untuk kami, sahabat-sahabatmu.
Untuk teman yang duduk di sebelahku,
maafkan aku yang tak bisa mengontrol ucapanku...
0 komentar:
Posting Komentar