Akhirnya
malam menjelang pagi, ditengah sepi dan luka yang menghujam tajam, untuk
kesekian kalinya aku mencoba menyapa cintamu (lagi). Tapi tak ada jawab. Kemana
gerangan engkau pergi? Apakah kau inginkan kesendirian saat ini? Ketika
janji-janjimu berubah menjadi tak pasti lalu berkaca dari dasar hati dan
menelan manis-pahit kehidupan. Apa yang kini kau dapatkan? Kesempurnaan dari
pengakhiran ini? Detik ini, aku hanya bisa bertanya sekali lagi; kemana sebenarnya
engkau pergi? Hanya satu yang kuyakini dan kudapatkan kini; hatimu ternyata
bukan untukku.
Mungkin ini
sudah saatnya aku harus mulai belajar melupakanmu. Mungkin ini saatnya juga aku
memilih untuk belajar menjadi teman saja, buatmu. Meski kenangan tentangmu tak
mudah kuhapuskan, biarlah semua membusuk bersama luka yang hidup dalam
kesia-siaan.
Semua memang telah berakhir.
Aku terpuruk
kecewa, mengucap selamat tinggal pada bahagia. Cinta dan penantianku berakhir
di ujung sia-sia dan sirna tak bersisa dan semua karenamu juga.
Aku
menangis, karena hanya itu yang membuatku terbebas dari segala beban cinta yang
menjeratku. Setelah ku puas menangis aku berhenti. Lalu disaat ku yakin, aku
pun tertawa karena kini ku telah mengikhlaskanmu. Semoga saja ikhlasku bisa
menjadikanku ratu yang paling berbahagia. Aku bahagia oleh airmata, oleh cinta
yang sebenarnya dan aku relakan dia dalam rengkuhan cintanya.
Sebelumnya
aku ingin tahu, siapa aku ini dihatimu? Apakah aku ini hadir untuk cintamu
dengan ketulusan hati atau sekedar mengumbar kata-kata basi? Mengapa kau
berubah begitu cepat? Segitu tak berhargakah aku dihatimu? Andai kau tahu, aku
tak pernah bisa mencampakkan cintaku kepadamu. Setiap kali aku mencobanya, aku
seperti melukai diriku sendiri. Dan detik berikutnya, aku makin tenggelam dalam
cintamu.
Rindu itu
bangkit lagi. Izinkan aku bunuh rindu ini biar tak bangkit lagi. Menenggelamkan
janji setia pada jiwa-jiwa yang meregang sepi. Melupakanmu dari tiap kenangan
dalam hidupku yang hampa. Terkadang, aku ingin mencuri waktu dan membawamu ke
masa lalu. Masa lalu disaat bibir hati kita tak bosan saling berkata “I love you”. Tapi yang berlalu biarlah
berlalu. Biarkan luka ini kusimpan disudut hatiku yang sedang terluka.
Terkadang pura-pura tidak rindu itu menyiksa.
Bagaimana bisa
aku berpaling kalau hatiku sudah kau curi dan membawanya pergi entah kemana. Disini aku masih saja berharap dan menunggumu.
Tapi, entah kapan itu menjadi nyata. Atau sebaiknya, aku pergi saja dan
membunuh semua perasaanku kepadamu dan menghapus semua tentangmu sampai tak
bersisa? Entahlah. Yang kutahu, membunuh perasaan lebih kejam dari bunuh diri.
Tapi sudahlah.
Semua memang telah berakhir. Akan kubunuh perasaanku kepadamu dan menghapus
semua tentangmu sampai tak bersisa. Paku luka yang kau tancapkan dihatiku telah
kucabut. Namun luka tetaplah luka. Walaupun sudah kucabut, tetap saja membekas
dalam hati. Membekas dihati…yang masih bergetar tiap kali mengingatmu.
Kini kata “I
love you” hanya menjadi kamus mati bagiku. Kini kata “God bless our relationship”
tak ada artinya lagi bagiku. Kenyataannya, Tuhan tak memberkati hubungan aku
dan kamu dan akhirnya kamu pergi meninggalkanku dengan luka dihatiku.
Sudahi
cerita rindu ini, bila kau yakin dengan pilihanmu. Daripada segalanya berakhir
dalam lembaran cinta yang memuja sia-sia, lebih baik sudahi saja. Terima kasih untuk setiap kebahagiaan
yang telah kau berikan. Berbahagialah dengan kekasih pilihan hatimu. Aku akan
coba untuk ‘rela’; merelakan hatimu untuk orang lain, bukan untukku.
Tapi,
sebelum semuanya benar-benar berakhir…aku ingin mengatakan kepadamu bahwa jatuh
cinta bukan sekedar mengatakan je t’aime kepada orang yang kau cinta.

0 komentar:
Posting Komentar