Awalnya tanpa
sengaja, takdir menemukan aku dan kamu. Tanpa sengaja pula, aku melupakan
setiap kejadian saat aku dan kamu bertemu. Padahal aku ingin sekali
menceritakan kepada mereka bagaimana bisa aku bertemu dengan dirimu yang
sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku bahwa kita akan bertemu. Tanpa
sengaja, kamu menjadi teman sesaat ku. Banyak sekali kejadian yang tak disengaja
saat aku dan kamu bertemu. Dan aku pun sadar, ini semua bukan karena “tanpa
sengaja”. Melainkan ini semua adalah rencana Tuhan untuk aku dan kamu.
Aku dan kamu
bertemu disaat…yang menurutku saat yang tepat. Mengapa ku katakan seperti itu?
Karena saat aku dan kamu dipertemukan, aku memang sedang membutuhkan seseorang
untuk menemani sepiku. Tuhan memang baik. Dia selalu mendengar doaku dan
menjawab semua doaku dengan cara mengirim kamu kedalam kehidupanku.
Aku tau,
kamu hanya menganggapku sebagai teman dan takkan mungkin menganggapku lebih
dari teman. Semua tau, kau mengincar sahabatku dan aku pun tahu akan hal itu.
Tapi, apa salah kalau aku diam-diam memberimu harapan? Apa salah jika aku
merindukanmu walau kau tak merindukanku? Kau tahu, karena hanya dihatimu aku
ingin berhenti (mencintai) dan entah mengapa walaupun kau tak mencintaiku aku
selalu bahagia mencintaimu karena mencintaimu di luar pemahamanku dan aku
bahagia!
Perlahan,
aku mulai merasakan rindu saat kau tak menyapaku. Rindu ini mengurai segala
tentangmu. Kapanpun dan dimanapun, kamu selalu memenuhi pikiran dan hatiku. Seharusnya
kamu tahu, kamu adalah baris pertama dari setiap alinea yang didalamnya selalu
menyebut kata ‘rindu’ walaupun aku takkan pernah menjadi baris pertama dari
setiap alinea yang kau sebut ‘rindu’.
Seiring
berjalannya waktu, kau merasuk dijiwa dan tak bisa lepas dari pikiran. Kau
menjadi orang terdekat yang selalu ada disaat ku butuhkan. Tapi sayang, aku
bukanlah orang terdekat bagimu. Dan akupun lelah. Hanya ada getar lemah yang
tersisa. Seterusnya adalah kata-kata tak juga berwujud sapa. Aku akan menerima,
jika ini memang rindu tak bersambut nyata.
Kamu.
Sedetik menjauh, sedetik mendekat. Pergi, lalu kembali. Ada, lalu tiada. Aku
terbangun dari mimpi dan tiba-tiba aku ingin kau ada. Tiba-tiba aku tersadar
kalau kau tak disampingku. Pagi yang menyesakkan. Kemarin, kamu begitu mesra
dalam dekapan. Tapi kenapa justru kini jauhmu yang kurasakan? Aku beranjak dari
tempat tidur dan pergi untuk sarapan. Kamu tahu? Sarapanku pagi ini adalah
sepiring memori tentangmu yang tak pernah basi. Aku merindukanmu, boss!
Bagiku kau
adalah sebuah kejutan yang selalu menghadirkan getar baru, kapanpun itu!

0 komentar:
Posting Komentar