"Berani kau jatuh cinta?"
"Berani! Asalkan aku jatuh cinta karenamu"
Sayang...
Aku tak pernah berpikir akan mengenalmu. Bahkan aku tak pernah berpikir akan mencintaimu walau hanya sekejap. Tapi kenyataan berkata lain. Aku mencintaimu sejak pertama kali kau menyapaku. Kucoba bunuh rasa ini, tapi rasa ini tak pernah mati. Kini aku sadar, hanya ini yang tertulis dihatiku: AKU MENCINTAIMU. TITIK!
Sayang...
Kau tahu mengapa aku membuka hatiku lagi saat kau datang? Aku membuka hatiku lagi bukan untuk belajar terluka lagi. Tapi aku membuka hatiku lagi saat kau datang karena aku ingin belajar mencintai lagi. Dan dihadapanmu, ku serahkan hatiku dan bawalah hatiku kemanapun cinta membawa kita berdua.
Sayang...
Katakan padaku, apakah aku juga ada disana; didalam hatimu? Apakah kau tak percaya dengan cintaku? Kalau hanya untuk main-main, untuk apa aku proklamirkan cinta ini dan rela terbakar bersamanya? Kamu adalah kebahagiaanku dan kamu juga adalah kegelisahanku. Hanya untukmu ku terima luka. Dan hanya untukmu juga, ku jaga bahagia.
Sayang...
Dimana aku akan bahagia, aku pasti mengajakmu. Dan di mana aku akan terluka, cukup aku saja karena aku tak ingin melihat kau terluka!
Sayang...
Kini kau patahkan hatiku. Sakit hati ini melihat kau melangkah menjauh. Pedih hati ini menyadari kau tak didekatku lagi. Kau meninggalkanku tanpa mengucapkan "Selamat Tinggal". Setega itukah dirimu? Memberiku harapan yang kini kau lemparkan begitu saja dihadapanku tanpa melihat sakitnya aku.
Sayang...
Tapi itulah cinta. Aku sadar aku sudah berani jatuh cinta. Berarti aku juga harus berani jatuh tanpa cinta. Aku sudah berani jatuh cinta, berarti aku juga harus berani jatuh karena sakit oleh cinta.
Sayang...
Susah payah ku menghapus ingatanku tentangmu. Susah payah aku mengobati luka yang kau tinggalkan dihati. Tapi, semakin ku menghapus semua tentangmu, aku semakin teringat akan sosok dirimu. Aku lelah. Aku lelah... Aku lelah melambaikan kata perpisahan.
Sayang...
Kini ku biarkan kamu lewat di pikiranku. Mengingat kau sebagai seseorang yang terindah dan membuangku ke dalam gelas kosong. Ku tahu dan ku sadar, semua berarti ketika aku bersamamu. Tapi tanpamu, akan kucari arti lagi. Siapa tahu, akan ada arti yang lebih berarti.
Sayang...
Maaf... Luka yang menghapus cintaku kepadamu. Luka yang membuatku bangkit lagi dan luka yang membuatku sadar kalau aku tak mungkin bertahan dalam kesedihan. Sekali lagi maaf, aku punya kehidupan dan kebahagiaanku sendiri, sama sepertimu. Maaf... Luka yang membuatku seperti ini.
Sayang...
Meratapi kesedihan, itu sudah seharusnya. Tapi bangkit dari keterpurukan, itu usaha yang luar biasa!
Selasa, 10 Juli 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar