Kau ku definisikan sebagai cinta yang tak terbatas. Cinta yang sejauh ini tetap ada, dan menumbuhkan harapan-harapan tuk memilikimu. Rasa cinta itu selalu hadir, terselip dalam hari-hariku. Bukannya membuat aku tak nyaman, tetapi semakin menikmati. Ternyata jatuh cinta itu luar biasa. Sakit dan bahagia kadang datang bersamaan. Ketika rasa putus asa untuk mengharapkanmu muncul, di lain sisi hatiku percaya, dengan bertahan bersama sejuta cinta yang melekat di hatiku untukmu, pasti suatu saat kau akan menginjakkan kaki di rumah hatiku. Hingga sekarang, yang ku nanti-nanti adalah kehadiran rasa percayamu padaku, bahwa aku benar mencintaimu. Karena jika ku dapatkan rasa percaya itu, aku tak akan menyia-nyiakannya. Aku justru akan membuktikan padamu bahwa penantianku selama ini bukanlah null. Sehingga kau semakin percaya dan yakin untuk bersama menjalani hari-harimu, berdua denganku, tanpa ragu untuk terus melakukannya, sampai kapanpun.
Kadang, hatiku meronta-ronta, menentang isi otak yang memaksnya untuk berhenti mencintai; dan untuk berhenti berharap padamu. Tetapi semakin besar kehendak otakku untuk berhenti mencintai dan berharap, perasaan untuk tetap mencintai sedikit demi sedikit muncul, hingga lama kelaman menjadi bukit keyakinan,sehingga selalu saja hatiku menang dan tetap melaksanakan kehendaknya untuk mencintai; dan berharap. Begitu besar rasa cinta ini,logika saja bisa terkalahkan oleh perasaan, dan kekhawatiran terganti oleh harapan.
Kata tanya 'kapan' itu selalu mengendap-endap, mencoba menerobos dinding hatiku. Kapan kau akan sadar bahwa aku mencintaimu dengan tulus? Kapan kau akan percaya pada perasaan ini? Kapan penantianku akan berakhir? Kapan, kapan, dan kapan. Yang bisa menjawab adalah waktu, tetapi waktu itu sendiri masih kalang kabut kepastiannya. Yang bisa kulakukan hanyalah tetap mencintai dan berharap. Dan tentunya menyiapkan mental untuk menerima apa yang akan terjadi nanti, setelah kau memutuskan untuk bersamaku, atau pergi meninggalkan luka.
Mencintai dalam diam itu penuh pengorbanan. Yang dikorbankan adalah hati;diakibatkan oleh rasa khawatir untuk tidak dicintai,dan melihatnya baik-baik saja tanpamu. Aku ingin menjadi bagian dari lembaran kisah hidupmu, dan nama yang selalu kau hadirkan dalam setiap percakapanmu dengan Tuhan, dan juga orang yang selalu ada dalam hati dan pikiranmu ketika mendengar kata 'cinta'.
Untuk pria yang sampai saat ini masih ku nantikan,
Ku harap kau segera mengakhiri penantianku.

0 komentar:
Posting Komentar