Selanjutnya
aku mencintaimu bukan dalam terang siang. Aku mencintaimu dalam gelap malam,
dengan hati sebagai mataku.
Aku bahagia.
Sangat-sangat bahagia karena aku bisa mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku bahagia.
Sangat-sangat bahagia karena kamu bisa mencintaiku sepenuh hatimu dan menerima
diriku apa adanya. Entah sebagai awal atau akhir, aku tetap menginginkanmu sebagai
tokoh utama dari setiap cerita bahagia dan sedihku.
Bahagia itu
ketika kita bersama mengucapkan janji dan tunduk teduh pada keakuan hati. Aku
ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu apalagi nanti. Aku ingin
mencintaimu saja untuk selamanya. Entah sampai kapan kita akan bertahan dalam
badai. Entah sampai kapan kita akan menjadi ‘kita’. Aku hanya ingin mengatakan
kepadamu, tak pernah ada kata cukup bagiku untuk mencintamu, itulah sebab
kenapa aku setia mengikuti jalanmu. Aku mempercayakan hatiku dalam genggamanmu.
Terkadang
aku berpikir, apakah aku termasuk orang yang serakah jika selalu berharap kau
didekat hatiku? Tapi apa salah jika aku selalu menginginkan kamu tuk berada
didekat hatiku?
Kau tahu? Kau
adalah alasan gundah dan resahku saat kau tak berada disampingku. Terkadang aku
berpikir, bagaimana kalau suatu saat nanti kau akan pergi meninggalkanku?
Mampukah aku beranjak pergi dengan semua tentangmu yang pelan-pelan membatu dan
memperberat langkahku? Oh dear, yang ku tahu aku tak bisa apa-apa bila kamu
meninggalkanku. Aku takkan bisa bahagia bila kamu pergi meninggalkanku karena
kamu adalah kebahagiaanku.
Kamu tahu
tidak apa yang aku rasakan sekarang? Kerinduan. Kamu tahu tidak apa yang aku
inginkan sekarang? Dirimu. Aku tak bisa
marah kepadamu walau kamu selalu membuatku marah. Karena bagiku, kamu adalah
anugerah terindah yang mendekap barisan hariku yang penuh bahagia. Senyummu
menghapus kesalku dan merubahnya menjadi tawa.
Kamu tahu
kita memiliki banyak perbedaan dan banyak yang mengatakan kalau perbedaan itu
yang akan mengakhiri hubungan kita. Tapi menurutku, karena kita berbeda makanya
aku percaya kita saling cinta. Biarkan saja semua berjalan tanpa rekayasa.
Seperti sejak pertama rasa itu diam membisu dan merasuk dijiwa. Lalu, perlahan
mengetuk pintu hatimu dan pintu hatiku.
Tiga kata
itu; “AKU SAYANG KAMU”. Selalu ada rindu yang mengemuka setiap kali kutulis
kata “tanpamu”. Karena jatuh cinta itu adalah kata kerja, maka jatuh cinta
adalah belajar mencintai. “Tanpamu” itu semakin menjepit ruang mimpi dan
kenyataan ketika aku ditelan kesendirian. Dari mataku, bahagia pun memendar
tersipu tiap kali kutulis kata “denganmu”. Bahkan tanpa kata “dengan” pun, aku
mampu membawa pulang bahagia itu asal ada “mu” di awal dan akhir “ku”. Lebih dari
pantas aku mencintaimu ketika air matamu menderas karena bahagia itu sendiri.
Aku ingin
mengatakan kalau aku sangat berterima kasih karena kamu telah mengetuk pintu
hatiku dan masuk kedalam. Bukannya aku ingin menguncimu, tapi bisakah kau
tinggal untuk selamanya? Sudah sepantasnya kita berbahagia. Akhirnya harapan
dan mimpi kita kini menjadi nyata. Aku dan kamu bersatu dan saling memiliki
dalam cinta. Tak butuh menjadi siapa atau apa aku di matamu. Ketika cinta
mengetuk pintu hati, aku adalah aku dan kamu adalah kamu.
Aku ingin
bertanya kepadamu, bagaimana kamu menulis kata cinta? Aku hanya mampu mengeja
hurufnya, selebihnya adalah rasa yang kurasakan dari hati yang terdalam.
Aku tak
ingin kebahagiaan ini berakhir begitu saja. Aku ingin kamu tahu, bukan cinta
yang memisahkan, tapi kita yang membuatnya terjadi. Bukan pula cinta yang
melukai, kita yang membuatnya terjadi sedemikian rupa. Dan aku berharap, semoga
kita tak pernah berpikir untuk melakukannya. I love you and God bless you! :)

0 komentar:
Posting Komentar