PANGGUNG SANDIWARA
Aku tersadar,selama ini kita hanya terperangkap dalam sebuah panggung sandiwara, dimana apa yang kita lakukan selama ini hanyalah pura-pura dan dikemas sebaik mungkin sehingga semuanya terlihat indah. Kita adalah pelaku-pelakunya, ya, aku, kamu dan dia. Dimulai dari hubungan yang sama sekali tidak memiliki dasar cinta yang kuat, secara perlahan kita telah membangun panggung sandiwara ini.
Aku. Aku adalah wanita mungil,bergaya casual dan santai yang tak sepadan jika disandingkan denganmu. Aku adalah tunanganmu, orang yang mencintaimu sepenuh hatiku. Orang yang tidak pernah memaksamu melakukan sesuatu untukku. Orang yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari hidupmu. Orang yang selalu sabar melewati segala badai yang mengamuk menerpa hubungan kita. Aku adalah wanita yang saat ini bersamamu.
Kamu. Kamu adalah seorang pria mapan, berperawakan tinggi, bijaksana, dan bertanggung jawab, serta menyimpan sisi lembut di balik pakaian rapih-mu itu. Kamu adalah tunanganku. Kamu adalah orang yang dijodohkan orangtuamu denganku, orang yang dipercayai orangtuaku, dapat menjagaku dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Tetapi kamu juga adalah pria yang memiliki masa lalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, yang bisa seenaknya kau permainkan. Ya, kamu adalah calon suamiku. Calon suami yang terpaksa belajar mencintaiku, yang sebelumnya sungguh tidak memiliki sedikitpun rasa cinta kepadaku, dan akhirnya merasa kalau kau perlahan menyayangiku.
Kita akhirnya menikah,hanya karena ingin menyenangkan orang tua kita.. Lalu, muncullah dia. Penghancur kebahagiaan kita, rumah tangga kita.
Dia. Dia adalah wanita yang cantik,berbadan tinggi dan langsing, serta memiliki senyum yang manis. Tetapi dia juga wanita yang angkuh,sombong,dan berbicara seperti orang yang tidak berpendidikan. Dia adalah wanita yang seenaknya masuk ke dalam apartement kita, yang menganggapku pembantumu. Dia adalah wanita yang datang mencarimu saat itu, yang akhirnya kau temui kembali setelah hubungan kalian berakhir tanpa kata putus. Dia adalah wanita yang beberapa hari lalu kau ajak belanja di mall, dan menciummu di depan kedua bola mataku, di apartement kita. Dia adalah wanita yang membuat kita sekarang tinggal seatap tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Dialah yang membuat aku enggan melihatmu lewat didepanku, yang membangkitkan amarahku ketika melihatmu, dan dia juga wanita yang mengancam akan membunuhku karena telah merebutmu darinya. Dan dia juga adalah orang yang pertama kau beritahu bahwa kau telah menikah, dan akulah istrimu.
Aku memutuskan tuk pergi dari hidupmu, tak akan kembali, karena selama ini kita hanya pura-pura menjalani hubungan ini.
Kau lebih mengetahui dia,dibanding aku yang tinggal seatap denganmu. Kau lebih memilih mengantarnya pulang, dibanding menjelaskannya padaku apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini kau hanya pura-pura perhatian padaku, dengan memberikanku segala macam materi yang kau punya.
Aku membencimu.
Dan aku pun membencinya.
Orang yang masuk ditengah-tengah kebahagiaan kita dan merusaknya.
Rabu, 04 Juli 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar